Bukan cuma bangunan rusak, tapi juga banyak korban jiwa dan luka yang harus dipulihkan.
Setelah pertempuran besar berakhir, Adipati Puspa Andungjaya langsung memberi perintah tegas: seluruh rakyat Carangsoka harus bahu-membahu membersihkan sisa-sisa perang.
Mayat para prajurit yang gugur dan bangkai hewan yang mati di medan laga segera dikuburkan dengan layak supaya tidak menimbulkan wabah penyakit.
Siang dan malam, warga bekerja tanpa banyak mengeluh.
Mereka seperti punya energi ekstra, karena kemenangan yang diraih membuat semangat mereka menyala.
Sosok yang paling menginspirasi mereka tentu saja Raden Kembangjaya.
Berkat keberanian dan kecerdasannya, negeri mereka bisa selamat dari ancaman.
Para prajurit yang terluka dirawat sebaik mungkin, walau dengan peralatan sederhana.
Semua dilakukan demi memulihkan keadaan secepat mungkin.
Adipati Paranggaruda dan Yuyurumpung, dua tokoh yang sebelumnya menjadi musuh, akhirnya dilepaskan setelah mereka mengakui kekalahan.
Rasa malu tentu menghantui mereka, apalagi setelah menyadari bahwa Carangsoka kini semakin kuat karena Majasemi dan Banthengan telah bersatu di bawah kepemimpinan Adipati Puspa Andungjaya.
Sebagai tanda terima kasih kepada Raden Kembangjaya, Sang Adipati berniat menjodohkan putrinya, Dewi Retna Nawangwulan, dengan sang pahlawan.
Namun ada satu masalah: sang putri ternyata pernah pergi meninggalkan istana bersama Dalang Sapanyana.
Adipati pun membuat kesepakatan.
Jika Raden Kembangjaya berhasil menemukan kembali Retna Nawangwulan sebelum tengah hari, maka pernikahan itu akan segera dilangsungkan.
Tanpa ragu sedikit pun, Raden Kembangjaya menerima tantangan tersebut.
Ia yakin bisa membawa pulang sang putri tepat waktu.
Setelah berpamitan dengan penuh hormat, Raden Kembangjaya segera berangkat menuju Majasem.
Ia tahu bahwa Retna Nawangwulan sedang dititipkan kepada kakaknya, Raden Sukmayana.
Sesampainya di sana, ia menjelaskan maksud kedatangannya.
Raden Sukmayana merasa lega sekaligus bahagia mendengar rencana pernikahan tersebut.
Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung memberikan restu.
“Kalau memang itu keinginan Sang Adipati, aku mendukung sepenuhnya,” ujar Raden Sukmayana.
Ia bahkan segera mempersiapkan berbagai keperluan untuk pesta pernikahan yang akan digelar.
Raden Kembangjaya pun membawa Retna Nawangwulan kembali ke Carangsoka.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa ringan.
Sabdapalon dan Nayagenggong tak henti-hentinya menggoda sang putri dengan candaan khas mereka.
Walau sempat malu, hati Retna Nawangwulan justru dipenuhi rasa bahagia.
Ia tahu, sebentar lagi ia akan bersanding dengan pria yang selama ini ia kagumi.
Hari pernikahan akhirnya tiba.
Perayaan digelar luar biasa meriah, bahkan berlangsung selama empat puluh hari empat puluh malam.
Seluruh rakyat ikut bersuka cita.
Raden Kembangjaya terlihat gagah bak dewa cinta Kamajaya, sementara Retna Nawangwulan tampak anggun bagaikan Dewi Ratih.
Keduanya benar-benar terlihat serasi. Siapa pun yang melihat mereka pasti merasa kagum.
Setelah pesta usai, Raden Kembangjaya membawa istrinya menuju Dukuh Kemiri.
Di tempat sederhana yang banyak ditumbuhi pohon kemiri itulah ia membangun wilayah baru.
Dengan kerja keras dan kepemimpinannya, daerah kecil itu berkembang pesat hingga dikenal luas.
Nama Kemiri kemudian berubah menjadi Pasantenan, terinspirasi dari kata “santen”, yang berarti inti atau sari kelapa.
Harapannya, negeri itu menjadi pusat kehidupan yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Kehidupan rumah tangga Raden Kembangjaya dan Retna Nawangwulan berjalan harmonis.
Mereka jarang sekali berselisih paham.
Kebahagiaan mereka semakin lengkap ketika beberapa bulan kemudian Retna Nawangwulan diketahui tengah mengandung.
Kabar itu disambut penuh sukacita oleh keluarga besar, termasuk Adipati Puspa Andungjaya dan Raden Sukmayana.
Setelah menunggu sembilan bulan sepuluh hari, lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat.
Bayi itu diberi nama Raden Jayakusuma.
Nama tersebut memiliki makna yang selaras dengan nama ayahnya.
Kata “jaya” berarti kemenangan, sedangkan “kusuma” berarti bunga.
Harapannya, kelak sang anak menjadi sosok unggul yang membawa harum nama bangsa.
Tak lama kemudian, kabar duka datang.
Adipati Puspa Andungjaya wafat. Karena beliau tidak memiliki putra laki-laki, tahta Carangsoka diwariskan kepada menantunya, Raden Kembangjaya.
Setelah masa berkabung empat puluh hari, Raden Kembangjaya resmi diangkat sebagai pemimpin.
Carangsoka pun digabungkan dengan Pasantenan.
Rakyat menyambut keputusan ini dengan antusias, karena mereka percaya pada kepemimpinan Raden Kembangjaya.
Beberapa waktu kemudian, Raden Sukmayana juga meninggal dunia tanpa meninggalkan putra sebagai penerus.
Maka wilayah Majasem pun digabungkan dengan Pasantenan.
Warisan pusaka keluarga, Mahkota Kanigoro dan keris Rambut Pinutung, ikut dibawa ke Pasantenan.
Konon, siapa pun yang memiliki kedua pusaka itu akan menjadi pemimpin besar.
Dan memang, Raden Kembangjaya berhasil mempersatukan berbagai wilayah di bawah kekuasaannya, seperti Majasem, Carangsoka, Paranggaruda, Kemaguhan, Nguren, Metesih, hingga Jambangan.
Sebagai pemimpin yang visioner, Raden Kembangjaya tidak hanya fokus memperluas wilayah, tetapi juga menyiapkan penerusnya.
Putranya, Raden Jayakusuma, dididik dengan disiplin tinggi.
Ia diajarkan ilmu bela diri, kepemimpinan, pemerintahan, hingga strategi bernegara.
Jayakusuma tumbuh menjadi pemuda cerdas, bijaksana, dan berwibawa.
Agar tidak menjadi bangsawan yang jauh dari rakyat, Jayakusuma juga diminta menimba pengalaman di luar istana.
Ia belajar kepada para pertapa sakti dan berinteraksi langsung dengan masyarakat biasa.
Dari situlah ia memahami kehidupan rakyat secara nyata.
Meski berasal dari keluarga bangsawan, ia tetap rendah hati dan mudah bergaul.
Rakyat pun menaruh simpati kepadanya.
Setelah dirasa matang, Jayakusuma kembali ke Pasantenan.
Raden Kembangjaya menilai putranya sudah siap memimpin.
Ia pun menyerahkan tahta kepada Jayakusuma, lalu memilih meninggalkan istana untuk bertapa di Gunung Muria.
Sejak saat itu, Jayakusuma memimpin Pasantenan dengan didampingi patih setianya, Singasari Sadubudya, yang terkenal ahli strategi perang.
Jayakusuma kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Dukuh Kabarongan dan membangun kota megah di sana.
Kota itu lama-kelamaan dikenal sebagai Pati.
Nama tersebut masih berkaitan dengan kata “santen”, sebagai simbol inti kehidupan yang menjadi sumber kemakmuran.
Hingga kini, Pati dikenal sebagai salah satu wilayah penting di pesisir utara Jawa Tengah.
Atas keberhasilannya memimpin, Jayakusuma mendapat gelar Kyai Ageng Pati atau Dipati Pati.
Bahkan Prabu Brawijaya II dari Majapahit memberinya gelar kehormatan Adipati Tandanegara.
Sebuah pengakuan atas kepemimpinannya yang kuat, bijaksana, dan berpengaruh luas. (*/selesai)
Editor : Abdul Rochim