Kisah Asal-usul Pati : Perang di Carangsoka Tak Terhindarkan (5-bersambung)

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 06:49 WIB
Perang pecah di Crangsoka
Perang pecah di Crangsoka

RADAR PATI - Sesampainya di Banthengan, Dalang Sapanyana perlahan membuka topeng yang selama ini menutupi wajahnya. 

Ternyata, sosok dalang sederhana itu bukan orang sembarangan.

Ia adalah Raden Kembangjaya, ksatria tampan dan sakti yang selama ini menyamar demi sebuah tujuan besar.

Tak hanya itu, dua perempuan yang selama ini dikenal sebagai saudari Dalang Sapanyana juga ikut membuka penyamaran mereka.

Ambarsari dan Ambarwati ternyata bukan wanita biasa, melainkan abdi setia Kembangjaya yang bernama Sabdapalon dan Nayagenggong.

Melihat kenyataan itu, hati Dewi Retna Nawangwulan campur aduk.

Ia menyesal, tapi juga bahagia. Menyesal karena ia terlanjur jatuh cinta kepada Dalang Sapanyana.

Namun di sisi lain, ia merasa sangat beruntung, karena pria yang dicintainya ternyata adalah Raden Kembangjaya.

Seorang ksatria gagah yang jauh lebih tampan dan berwibawa dibanding sosok dalang yang pernah hadir dalam mimpinya.

Dengan lembut Kembangjaya berkata,

“Adinda Retna Nawangwulan, semua yang Kakanda lakukan bukan tanpa alasan. 

Saat Kakanda bertapa, Tuhan memberi petunjuk agar Kakanda menyelamatkan Adinda dari rencana pernikahan dengan putra Adipati Paranggaruda.

Kakanda tidak rela melihat Adinda bersanding dengan Menak Jasari.”

Mendengar itu, Nawangwulan tak ragu mengungkapkan isi hatinya.

“Begitu juga dengan hamba, Kakanda. Hamba lebih memilih mati daripada harus menikah dengan orang lain.

Hati hamba sudah terpikat sejak melihat Kakanda memainkan wayang.

Sejak saat itu, hanya Kakanda yang selalu hadir di pikiran hamba.”

Suasana haru itu tiba-tiba pecah oleh celetukan Sabdapalon dan Nayagenggong.

“Wah wah… romantis banget sih! Lagi pada saling rayu nih!”

Kembangjaya hanya tersenyum mendengar godaan abdinya, sementara Nawangwulan langsung menunduk malu, pipinya memerah seperti bunga mawar.

Kembangjaya lalu berkata,

“Paman Sabdapalon, Nayagenggong, jangan terus menggoda.

Untuk sementara, Diajeng Retna Nawangwulan akan kutitipkan dulu di Majasemi kepada Kakanda Sukmayana. 

Kalau keadaan sudah aman, barulah ia kembali ke Carangsoka bersama Paman Puspa Andungjaya.”

Nayagenggong mengangguk setuju.

“Itu keputusan bijak, Gusti. Di Majasem nanti Gusti Ayu Nawangwulan juga tidak akan sendirian, ada Mbok Ayu Ni Suciyah yang akan menemaninya.”

Hari itu juga mereka berangkat menuju Majasem.

Sementara itu di Paranggaruda, Adipati Yujopati sudah tiga hari menunggu kabar dari patihnya.

Akhirnya Patih Singapati datang bersama putranya, Raden Bagus Menak Jasari.

Namun ada yang aneh.

Dari kejauhan terlihat Menak Jasari tidak membawa pengantin wanita.

Pakaiannya kusut, wajahnya muram, bahkan ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil kehilangan mainan.

“Ayah… lebih baik hamba mati saja!” ratap Menak Jasari dramatis.

“Hamba dipaksa menikah, padahal bukan keinginan hamba. Sekarang istri hamba malah kabur bersama Dalang Sapanyana! Hamba tak sanggup menanggung malu!”

Adipati Yujopati mencoba menenangkan anaknya.

“Sudahlah, Anakku. Jangan menangis begitu. Ayah pasti akan mencari perempuan itu dan menghukum dalang kurang ajar itu.”

Lalu ia menoleh ke Patih Singapati.

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

Patih Singapati pun menjelaskan semuanya.

Bahwa pihak Carangsoka seakan sengaja membiarkan Dalang Sapanyana membawa lari Nawangwulan. 

Bahkan dalang itu dibantu oleh Kuda Sewengi dan Singanyidra.

Mendengar cerita itu, kemarahan Adipati Yujopati meledak.

Ia menggeram keras. Kakinya menghentak lantai istana.

Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat menegang.

“Kalau begitu… siapkan pasukan! Bakar Carangsoka sampai habis! Rampas semua hartanya! Adungjaya harus diberi pelajaran!”

Perintah itu langsung dilaksanakan.

Negeri Paranggaruda berubah sibuk. 

Ribuan prajurit disiapkan.

Senjata-senjata perang dipoles dan diperiksa: tombak, keris, pedang, panah, hingga gada.

Genderang perang mulai ditabuh.

Pasukan besar bergerak menuju Carangsoka dengan langkah yang menggetarkan bumi.

Sesampainya di perbatasan Carangsoka, pasukan Paranggaruda berhenti untuk menyusun strategi.

Sebuah surat tantangan perang dikirim kepada Adipati Puspa Andungjaya.

Isi suratnya jelas: Yujopati menantang perang terbuka sebagai balasan atas penghinaan yang ia rasakan.

Tantangan itu justru disambut dengan semangat oleh Adipati Puspa Andungjaya.

Ia langsung memerintahkan seluruh pasukan Carangsoka bersiap.

Para panglima dan hulubalang berkumpul: Sondongwedari, Singamerta, pemimpin Masong, Rames, Ngepung Pondhohan, hingga Nguren.

Kedua pasukan akhirnya bertemu di dekat dukuh Grising, dipisahkan oleh sungai.

Dari seberang sungai, pasukan Paranggaruda berteriak menantang.

“Hai orang Carangsoka! Kalau kalian berani, menyeberanglah ke sini!”

Pasukan Carangsoka tak kalah sengit membalas ejekan.

“Kalau kalian takut menyeberang, lebih baik pulang saja! Sudah biasa orang Paranggaruda ciut nyali!”

Ejekan itu membuat Yuyurumpung murka. Ia terkenal mudah tersulut emosi.

Dengan wajah merah dan mata melotot, ia memerintahkan pasukannya menyeberangi sungai.

Satu per satu prajurit Paranggaruda menyeberang.

Ada yang naik perahu, ada yang berenang, ada pula yang berpegangan pada kayu.

Namun begitu mereka sampai di tengah sungai, pasukan Carangsoka menyerang habis-habisan. Batu, tombak, panah, dan parang beterbangan.

Banyak prajurit Paranggaruda terluka. Darah mulai bercampur dengan air sungai.

Sungai di dekat Grising berubah merah.

Genderang perang berbunyi keras.

Pertempuran besar pun pecah.

Para prajurit saling serang dengan berbagai senjata.

Ada yang menggunakan pedang, tombak, bahkan bertarung tangan kosong. Ilmu kesaktian ikut dikeluarkan.

Korban berjatuhan di mana-mana.

Ada yang kehilangan tangan. Ada yang kehilangan kaki. Bahkan ada yang kepalanya terpisah dari tubuhnya.

Hari pertama pertempuran berlangsung sengit dan seimbang.

Namun hari-hari berikutnya, pasukan Carangsoka mulai kewalahan. Banyak prajurit gugur membela negeri.

Melihat keadaan semakin genting, Patih Singapadu menyarankan meminta bantuan ke Majasem.

Utusan segera dikirim.

Kebetulan di Majasem sedang berlangsung pertemuan para hulubalang. Raden Sukmayana langsung menyetujui permintaan bantuan.

Ia berkata kepada adiknya,

“Kembangjaya, ini kesempatanmu menunjukkan kepahlawanan. Kelak kau akan menjadi pemimpin Carangsoka dan menikahi Retna Nawangwulan.”

Kembangjaya mengangguk mantap.

“Aku sendiri yang akan memimpin pasukan.”

Pasukan Majasem berangkat membawa kekuatan baru: Kuda Sewengi, Singanyidra, dan para hulubalang hebat lainnya.

Kedatangan mereka mengubah jalannya perang.

Pasukan Paranggaruda mulai kocar-kacir.

Yuyurumpung akhirnya berhadapan langsung dengan Raden Kembangjaya… dan kalah telak.

Bahkan Adipati Yujopati berhasil ditangkap hidup-hidup dan diserahkan kepada Adipati Puspa Andungjaya.

Sorak sorai rakyat Carangsoka menggema.

“Hidup Raden Kembangjaya! Hidup pahlawan Carangsoka!”

Sisa pasukan Paranggaruda melarikan diri ketakutan tanpa arah.

Perang pun berakhir.

Namun medan pertempuran menyisakan pemandangan mengerikan.

Tubuh-tubuh bergelimpangan.

Tanah Carangsoka basah oleh darah.

Sebuah perang besar telah berlalu… meninggalkan kisah keberanian, cinta, dan pengorbanan yang tak akan pernah dilupakan. (*/5-bersambung)

Editor : Abdul Rochim
paranggaruda asal usul Pati Majasemi perang di carangsoka