RADAR PATI - Sejak lama Adipati Paranggaruda dibuat overthinking gara-gara satu hal: Dalang Sapanyana belum juga ditemukan.
Padahal semua persiapan pernikahan anaknya, Raden Bagus Menak Jasari dengan Dewi Retna Nawangwulan, sudah hampir 100 persen siap.
Tinggal satu syarat penting yang belum terpenuhi, yaitu kehadiran Dalang Sapanyana sebagai pengiring sekaligus bagian dari mas kawin.
Adipati Paranggaruda sudah menugaskan sahabatnya, Raden Yuyurumpung, untuk mencari sang dalang ke berbagai penjuru.
Tapi sampai waktu yang ditentukan makin dekat, kabar baik tak kunjung datang. Hati sang Adipati pun campur aduk: gelisah, kecewa, bahkan mulai murung.
Pernikahan megah yang dirancang matang terancam gagal hanya karena satu orang belum ketemu.
Suatu hari, Yuyurumpung akhirnya datang ke kadipaten Paranggaruda. Sayangnya, kabar yang dibawa bukan kabar bahagia.
Ia mengaku sudah mencari ke mana-mana, tapi Dalang Sapanyana tetap tak terlacak.
Dengan wajah penuh penyesalan, Yuyurumpung meminta maaf karena misinya belum berhasil.
Meski begitu, ia berjanji akan terus berusaha menemukan sang dalang.
Adipati Paranggaruda jelas kecewa, tapi masih menyimpan harapan.
Ia percaya Patih Singapati, tangan kanannya yang terkenal cakap, mungkin bisa menyelesaikan masalah ini.
Benar saja, harapan itu akhirnya terbayar. Patih Singapati berhasil menemukan Dalang Sapanyana dan membawanya ke Paranggaruda.
Kehadiran dalang ini langsung jadi perbincangan.
Sapanyana dikenal bukan cuma piawai memainkan wayang, tapi juga punya paras rupawan.
Bahkan konon seperangkat gamelan dan wayangnya bisa bergerak sendiri tanpa perlu diangkat orang lain.
Ia datang bersama dua saudara perempuannya, Ambarsari dan Ambarwati, yang kecantikannya bikin para hulubalang Paranggaruda gagal fokus.
Sapanyana menghadap Adipati Paranggaruda dengan penuh hormat.
“Sembah bakti hamba haturkan ke hadapan Paduka, Sang Adipati,” ucapnya.
Adipati pun menyambut hangat. Ia bahkan siap membayar mahal demi pertunjukan wayang sang dalang di pesta pernikahan anaknya.
Namun jawaban Sapanyana justru bikin kagum.
“Hamba tidak meminta biaya sepeser pun kepada Sang Adipati. Apa yang dapat hamba kerjakan merupakan darma bakti hamba sebagai seorang dalang.”
Jawaban itu membuat Adipati semakin yakin pesta pernikahan akan berjalan lancar.
Rombongan pengantin pria segera disiapkan untuk berangkat ke Kadipaten Carangsoka, tempat tinggal calon mempelai wanita.
Sesuai tradisi Jawa zaman itu, keluarga pengantin pria membawa banyak hadiah sebagai tanda kesungguhan.
Sapi, kerbau, dan hasil bumi terbaik dari Paranggaruda disiapkan sebagai patukon.
Rombongan pengiring juga lengkap: hulubalang, pejabat kadipaten, kepala desa, dan para tokoh penting.
Semua dipimpin Patih Singapati, dibantu Yuyurumpung, Gagakpait, Kertiwerdana, Ki Belongoh, dan Banyaklodong.
Adipati Paranggaruda sendiri tidak ikut rombongan karena adat melarang orang tua pengantin pria hadir sampai pelaminan.
Di Carangsoka, suasana juga sudah super sibuk.
Adipati Carangsoka mempersiapkan penyambutan besar-besaran.
Para tamu dari berbagai kadipaten seperti Majasem, Cepumanik, Jeparan, hingga Rembangasem sudah berdatangan.
Pokoknya pesta ini benar-benar jadi event besar lintas wilayah.
Sepanjang perjalanan menuju Carangsoka, rombongan pengantin jadi tontonan rakyat.
Tapi bukannya memuji, banyak orang justru berbisik-bisik soal penampilan Raden Bagus Menak Jasari.
Namanya memang keren, tapi wajahnya dianggap jauh dari kata tampan.
Ada yang membandingkan dengan kepiting, monyet, bahkan jalangkung.
Banyak yang merasa sayang melihat Dewi Nawangwulan yang terkenal cantik jelita harus menikah dengan pria yang dianggap buruk rupa.
Ketika akhirnya melihat calon suaminya, Dewi Nawangwulan hampir pingsan.
Namun semuanya berubah saat ia melihat Dalang Sapanyana.
Sosok dalang itu begitu menawan dan karismatik hingga membuat hati sang putri langsung berdebar.
Dalam hatinya, muncul keinginan kuat: kalau tidak bisa menikah dengan Sapanyana, ia merasa hidupnya tak akan bahagia.
Pesta pernikahan berlangsung meriah. Gamelan ditabuh, para tamu bersuka cita, dan pertunjukan wayang Dalang Sapanyana jadi pusat perhatian.
Suara suluknya merdu, ceritanya menyentuh, dan semua penonton terpukau.
Namun di balik kemeriahan itu, hati Dewi Nawangwulan justru semakin gelisah. Ia tidak rela menikah dengan pria yang tidak dicintainya.
Akhirnya ia menyusun rencana nekat.
Dibantu Emban Gandekluwes dan para dayang kepercayaannya, ia menciptakan kekacauan di tengah pertunjukan.
Saat suasana mencapai puncak, Dewi Nawangwulan berpura-pura izin ke belakang. Tanpa diduga, ia justru meloncat ke panggung dan memadamkan lampu wayang.
Seketika suasana jadi gelap gulita.
Para tamu panik dan berteriak-teriak.
Kekacauan tak terhindarkan.
Dalam situasi itulah Dewi Nawangwulan kabur bersama Dalang Sapanyana.
Pihak Paranggaruda langsung geger. Raden Bagus Menak Jasari menangis histeris seperti anak kecil kehilangan mainan.
“Paman Patih Singapati, di mana istriku yang cantik… hu… hu… hu…” ratapnya sambil berguling di tanah.
Patih Singapati mencoba menenangkan sambil berjanji akan mengejar Sapanyana.
Sementara itu, Yuyurumpung dan para prajurit berusaha menghadang pelarian sang dalang.
Di pintu belakang kadipaten, pertempuran sengit tak terelakkan.
Banyaklodong dan pasukannya mencoba menghentikan Sapanyana, tapi kemampuan kanuragan sang dalang ternyata sangat tinggi.
Satu per satu lawannya berhasil dikalahkan. Bahkan dua saudara perempuan Sapanyana ikut turun tangan membantu melawan.
Pertarungan makin panas saat Yuyurumpung dan Patih Singapati ikut terjun.
Namun tiba-tiba muncul Kuda Suwengi dan Singanyidra yang menantang Yuyurumpung bertarung. Situasi makin kacau karena semua sibuk bertarung satu sama lain.
Di tengah kekacauan itu, Sapanyana melihat kesempatan emas.
Ia segera membawa Dewi Nawangwulan kabur menuju Dukuh Banthengan, tempat asalnya.
Tak ada lagi yang mampu menghentikan mereka.
Akhirnya pertempuran pun bubar dengan sendirinya.
Semua pihak pulang dengan perasaan campur aduk.
Pernikahan yang seharusnya jadi pesta besar justru berakhir gagal total.
Kisah cinta tak terduga antara dalang tampan dan putri cantik pun menjadi cerita yang dikenang banyak orang. (*/4-bersambung)
Editor : Abdul Rochim