Ia bukan hanya punya kesaktian, tapi juga punya dua anak laki-laki yang sama-sama luar biasa.
Anak sulung bernama Raden Sukmayana, sementara si bungsu bernama Raden Kembangjaya.
Dua bersaudara ini tumbuh jadi pria gagah, cerdas, dan berwibawa. Keduanya juga dipercaya memimpin wilayah masing-masing.
Raden Sukmayana menjadi penguasa di Negeri Majasem, sebuah negeri besar yang makmur dan membawahi ratusan desa.
Sementara Raden Kembangjaya memilih hidup lebih sederhana di Dukuh Banthengan, memimpin masyarakat kecil yang hidup damai dan dekat dengan alam.
Walaupun jalan hidup mereka berbeda, keduanya sama-sama dihormati rakyat karena terkenal adil, bijaksana, dan selalu memberi contoh baik.
Singkatnya, dua bersaudara ini bisa dibilang paket lengkap: tampan, sakti, dan punya moral tinggi.
Suatu ketika, Raden Sukmayana berhasil mempersunting putri cantik dari Negeri Cepumanik bernama Ni Suciyah.
Pernikahan itu terjadi setelah sebuah sayembara memanah dimenangkan oleh Raden Kembangjaya.
Namun karena sang kakak belum menikah, Kembangjaya dengan lapang dada menyerahkan hadiah sayembara itu kepada kakaknya. Alhasil, Ni Suciyah menikah dengan Raden Sukmayana.
Masalahnya… hati Ni Suciyah ternyata tidak sepenuhnya untuk suaminya.
Diam-diam, sejak pertama kali melihat Kembangjaya di arena sayembara, Ni Suciyah sudah jatuh hati.
Menurutnya, Kembangjaya punya aura yang lebih kuat, lebih karismatik, dan entah kenapa terasa lebih menggetarkan hati.
Meski kini ia menjadi istri penguasa Majasemi, rasa itu tidak benar-benar hilang.
Suatu sore di taman kadipaten, Raden Sukmayana duduk santai bersama istrinya.
Mereka membicarakan masa depan kerajaan, rakyat, dan harapan memiliki keturunan. Sudah lama menikah, tapi mereka belum juga dikaruniai anak.
Di tengah obrolan itu, Sukmayana tiba-tiba teringat adiknya.
Ia merasa sudah lama Kembangjaya tidak berkunjung ke Majasemi. Rasa rindu muncul, sekaligus sedikit khawatir.
Ni Suciyah yang mendengar itu langsung memanfaatkan kesempatan.
Ia meminta izin untuk menjenguk Kembangjaya di Banthengan, dengan alasan khawatir kondisi sang adik ipar.
Padahal sebenarnya… ia hanya ingin bertemu pria yang diam-diam selalu memenuhi pikirannya.
Sukmayana yang tidak menaruh curiga langsung mengizinkan. Ia bahkan memerintahkan pengiring untuk menemani istrinya pergi ke Banthengan.
Ni Suciyah pun berangkat dengan hati berbunga-bunga.
Di Banthengan, kehidupan Raden Kembangjaya sangat sederhana. Ia lebih senang hidup sebagai petani sekaligus pertapa.
Ia ditemani dua abdi setia bernama Sabdapalon dan Nayagenggong, yang selalu mendampinginya dalam berbagai situasi.
Dukuh Banthengan terkenal asri. Pepohonan tumbuh rapi, udara sejuk, dan masyarakatnya hidup harmonis dengan alam.
Semua tertata dengan baik, mencerminkan ketekunan dan rasa syukur para penghuninya.
Suatu hari, Kembangjaya menceritakan mimpi aneh kepada kedua abdinya. Ia bermimpi seekor ular berekor runcing masuk ke gubuknya. Ia mencoba mengusir ular itu, namun justru digigit.
Menurut firasatnya, mimpi itu seperti pertanda akan ada masalah besar yang datang.
Dan benar saja…
Tak lama kemudian, Ni Suciyah tiba di Banthengan.
Begitu bertemu Kembangjaya, Ni Suciyah langsung menunjukkan gelagat berbeda.
Kata-katanya penuh rayuan, matanya penuh kerinduan yang sulit disembunyikan.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya sangat merindukan Kembangjaya. Bahkan ia meminta agar Kembangjaya “mengobati sakit hatinya”.
Kembangjaya tentu kaget. Ia tetap menghormati Ni Suciyah sebagai kakak iparnya dan mempersilakan masuk dengan sopan.
Namun situasi tiba-tiba berubah tidak nyaman.
Ni Suciyah mencoba mendekat secara berlebihan. Ia bahkan nekat memeluk Kembangjaya.
Kembangjaya yang memegang teguh prinsip langsung menghindar.
Ia tidak mau melakukan perbuatan yang melanggar moral, apalagi mengkhianati kakaknya sendiri.
Ni Suciyah yang kehilangan keseimbangan justru terjatuh. Namun rasa malunya berubah menjadi kemarahan.
Ia mencoba mengejar Kembangjaya lagi, tapi malah tersandung pintu hingga jatuh lebih keras. Pakaiannya robek dan bibirnya berdarah.
Bukannya merasa bersalah, Ni Suciyah malah murka.
Dengan emosi meluap, ia mengancam akan memfitnah Kembangjaya.
Ia bersumpah akan memutarbalikkan fakta.
Yang benar akan dikatakan salah.
Yang salah akan dibuat terlihat benar.
Dengan hati panas, Ni Suciyah pulang ke Majasemi sambil merencanakan balas dendam.
Sesampainya di Majasemi, Ni Suciyah menangis histeris di hadapan suaminya.
Ia membuat cerita seolah-olah dirinya dilecehkan oleh Kembangjaya.
Awalnya, Raden Sukmayana tidak langsung percaya. Ia tahu betul sifat adiknya yang berbudi luhur.
Namun Ni Suciyah terus menangis, bahkan mengancam akan mengakhiri hidup jika suaminya tidak membela kehormatannya.
Situasi makin panas karena Emban Sepat ikut bersaksi mendukung cerita Ni Suciyah.
Karena takut kehilangan istrinya, Sukmayana akhirnya terbakar emosi.
Tanpa berpikir panjang, ia berangkat ke Banthengan untuk menuntut pertanggungjawaban adiknya.
Sesampainya di Banthengan, Sukmayana langsung menyerang Kembangjaya.
Namun Kembangjaya tidak melawan.
Ia hanya menghindar.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena ia tidak ingin melukai kakaknya sendiri.
Sukmayana makin marah karena merasa seperti dipermainkan.
Pertarungan berlangsung cukup lama sampai akhirnya Sukmayana kelelahan.
Saat itulah Sabdapalon dan Nayagenggong turun tangan melerai.
Dengan tenang, Nayagenggong menjelaskan kejadian sebenarnya.
Ia bersumpah bahwa Kembangjaya tidak bersalah.
Justru Ni Suciyah yang mencoba menggoda.
Mendengar penjelasan itu, Sukmayana akhirnya sadar.
Amarahnya mereda.
Rasa bersalah langsung menghampiri.
Ia meminta maaf kepada adiknya.
Kembangjaya pun memaafkan dengan tulus.
Keduanya kembali berpelukan sebagai saudara.
Setelah suasana tenang, Sukmayana menyampaikan maksud lain kedatangannya.
Ia mendapat permintaan bantuan dari Carangsoka untuk mencari seorang dalang terkenal bernama Dalang Sapanyana yang akan tampil dalam pernikahan bangsawan.
Kembangjaya menyanggupi permintaan itu.
Ia siap membantu kakaknya.
Setelah urusan selesai, Sukmayana kembali ke Majasem dengan hati lebih lega.
Sementara Kembangjaya kembali menjalani kehidupannya yang sederhana, tetap teguh menjaga kehormatan dan kebenaran. (*/3-bersambung)
Editor : Abdul Rochim