RADAR PATI - Kabar dari Patih Singapati langsung bikin suasana istana Paranggaruda memanas. Adipati Yujopati yang sebelumnya berharap lamarannya diterima dengan mulus, justru merasa dilecehkan.
Bukan karena lamaran itu ditolak secara terang-terangan, tapi karena syarat yang diajukan pihak Carangsoka terasa mustahil untuk dipenuhi.
Syaratnya terdengar aneh sekaligus tidak masuk akal: harus menghadirkan Dalang Sapanyana, seorang dalang legendaris yang konon mampu menggerakkan seperangkat gamelan dan wayangnya tanpa bantuan manusia.
Bahkan disebutkan para penabuh gamelan adalah saudara perempuannya sendiri. Bagi Yujopati, syarat ini seperti sindiran halus. Ia merasa dipermainkan.
Dalam pikirannya, tidak mungkin ada dalang seperti itu. Baginya, ini sama saja dengan penolakan terselubung.
Harga dirinya sebagai penguasa terusik. Amarahnya meledak. Ia merasa martabatnya diinjak-injak.
Dengan nada tinggi, ia langsung mengungkapkan niat untuk menyerang Kadipaten Carangsoka dan merebut paksa Dewi Retna Nawangwulan.
“Kalau memang seperti ini caranya, lebih baik Carangsoka kita serbu saja! Kita ambil paksa Nini Dewi Retna Nawangwulan. Biar mereka tahu kalau kita bukan kadipaten yang bisa diremehkan!” ucap Yujopati penuh emosi.
Namun Patih Singapati tidak langsung menyetujui rencana itu. Dengan sikap tenang, ia mencoba meredam amarah sang adipati.
Ia mengingatkan bahwa peperangan hanya akan merusak hubungan baik yang selama ini sudah terjalin. Persahabatan antar kadipaten bisa hancur hanya karena emosi sesaat.
Patih Singapati menyarankan agar mereka tetap mencoba memenuhi syarat tersebut. Siapa tahu Dalang Sapanyana memang benar-benar ada.
Kalau usaha sudah dilakukan namun tidak membuahkan hasil, barulah langkah lain bisa dipertimbangkan.
Saran itu akhirnya diterima. Yujopati pun memutuskan untuk meminta bantuan sahabatnya, Adipati Yuyurumpung dari Kemaguhan.
Yuyurumpung dikenal sakti, berpengaruh, dan punya banyak relasi di berbagai wilayah. Kemungkinan menemukan Dalang Sapanyana akan lebih besar jika dibantu olehnya.
Keesokan paginya, Patih Singapati berangkat menuju Kemaguhan. Sesampainya di sana, ia mendapati Yuyurumpung sedang mengadakan pertemuan penting bersama para pejabat kadipaten.
Hadir dalam pertemuan itu Patih Singabangsa dari Metesih, Gagakpait dari Tlagamaja, Dhandhangwiring dari Ngeraci, serta sesepuh kadipaten bernama Banyaklodong.
Di tengah pembahasan tentang kesejahteraan rakyat, Patih Singapati menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menjelaskan permintaan bantuan dari Adipati Yujopati untuk mencari Dalang Sapanyana.
Tanpa berpikir panjang, Yuyurumpung langsung menyanggupi.
Ia berjanji akan membantu sepenuhnya, bahkan bersedia mengantar Dalang Sapanyana sendiri ke Paranggaruda jika berhasil ditemukan.
Setelah Patih Singapati kembali, Yuyurumpung mulai mendiskusikan rencana pencarian.
Namun ternyata tidak seorang pun di antara para pejabatnya mengetahui siapa Dalang Sapanyana sebenarnya, apalagi di mana keberadaannya.
Di tengah diskusi, muncul persoalan lain.
Salah satu pembesar wilayah bernama Kuda Suwengi dari Jambangan diketahui tidak pernah hadir dalam pertemuan kadipaten. Ketidakhadirannya menimbulkan kecurigaan.
Yuyurumpung menduga ada niat pembangkangan.
Tanpa menunggu lama, Yuyurumpung memutuskan mendatangi Jambangan bersama pasukannya.
Ia ingin memastikan kesetiaan Kuda Suwengi sekaligus mengajaknya ikut mencari Dalang Sapanyana.
Pasukan Kemaguhan bergerak cepat. Wajah-wajah mereka tampak garang dan menakutkan. Sesampainya di Jambangan, rumah Kuda Suwengi langsung dikepung.
Yuyurumpung memanggilnya keluar dengan nada keras.
Namun Kuda Suwengi menolak.
Ia justru mengungkapkan alasan sebenarnya: ia tidak setuju dengan cara Yuyurumpung memimpin. Menurutnya, Yuyurumpung terlalu kejam terhadap rakyat.
Pajak dipaksa, upeti ditarik setiap pekan, bahkan rakyat yang tidak mampu sering mendapat hukuman berat. Yang paling membuat marah, Yuyurumpung dikenal sering merampas istri orang lain.
Karena itulah Kuda Suwengi memilih tidak lagi tunduk.
Mendengar jawaban tersebut, Yuyurumpung murka.
Ia memerintahkan anak buahnya menangkap Kuda Suwengi.
Namun Singabangsa mengaku takut karena kemampuan bela diri Suwengi sangat tinggi.
Bahkan anak Singabangsa sendiri dikabarkan memilih berguru kepada Suwengi.
Gagakpait akhirnya maju lebih dulu. Ia menerjang pintu rumah hingga jebol. Perkelahian sengit pun terjadi. Kuda Suwengi menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Gagakpait berhasil dibanting hingga terpental keluar rumah.
Yuyurumpung semakin marah. Ia memerintahkan semua senapati menyerang bersama-sama. Empat pendekar mengepung Kuda Suwengi dari segala arah.
Meski sendirian, Suwengi mampu melawan dengan gesit. Ia meloncat, menghindar, dan menyerang balik dengan tendangan keras. Satu per satu lawannya berhasil dijatuhkan.
Melihat anak buahnya kewalahan, Yuyurumpung akhirnya turun tangan sendiri. Pertarungan antara keduanya berlangsung sangat sengit.
Mereka menggunakan berbagai senjata tajam dan jurus tingkat tinggi. Namun perlahan kekuatan Kuda Suwengi mulai menurun. Ia kelelahan menghadapi serangan bertubi-tubi.
Saat mencoba melompat keluar rumah, tumitnya tersangkut di ambang pintu. Ia jatuh dan langsung ditindih oleh Yuyurumpung serta para prajuritnya.
Dalam kondisi tak berdaya, ia diikat dan diperlakukan dengan sangat kejam. Tubuhnya diseret di belakang kuda sepanjang perjalanan menuju Kemaguhan. Setiap kali mencoba bangkit, ia dicambuk tanpa ampun.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul seorang pemuda gagah menghadang rombongan. Ia adalah Singanyidra, adik Kuda Suwengi.
Ia mendapat kabar bahwa kakaknya disiksa secara tidak manusiawi. Tanpa ragu, ia langsung menyerang.
Dengan cepat Singanyidra memotong ekor kuda yang menarik tubuh kakaknya. Kuda menjadi panik dan Yuyurumpung terjatuh.
Pertarungan pun pecah lagi. Singanyidra melawan banyak prajurit sekaligus. Kemampuannya luar biasa, beberapa prajurit berhasil dikalahkan.
Yuyurumpung kemudian maju menghadapi Singanyidra secara langsung. Pertarungan keduanya sangat sengit.
Singanyidra sempat menjatuhkan Yuyurumpung dengan tendangan keras. Namun jumlah musuh terlalu banyak. Singanyidra sadar ia tidak mungkin menang sendirian.
Dengan cerdik, ia menaburkan pasir ke mata Yuyurumpung hingga sang adipati kehilangan penglihatan sesaat.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan untuk menyelamatkan kakaknya.
Ia mengangkat tubuh Kuda Suwengi yang lemah dan membawanya kabur ke arah barat menuju Majesem.
Di sana tinggal saudara mereka, Raden Sukmayana, seorang tokoh yang diyakini mampu membantu mengalahkan Yuyurumpung.
Singanyidra bertekad memperdalam ilmu agar suatu hari bisa membalas perlakuan kejam tersebut.
Sementara itu, Yuyurumpung memilih kembali ke Kemaguhan.
Ia tidak mengejar Singanyidra karena yakin suatu saat akan bertemu kembali. Dalam hatinya tersimpan dendam besar. Ia tidak terima wibawanya dilawan.
Meski konflik baru saja terjadi, Yuyurumpung tetap berencana melanjutkan pencarian Dalang Sapanyana keesokan harinya.
Baginya, urusan lamaran sahabatnya tetap harus diselesaikan, meskipun persahabatan di berbagai pihak mulai retak karena ambisi dan kekuasaan. (2-bersambung)
Baca Juga: Kisah Asal-usul Pati : Godaan Ni Suciyah terhadap Raden Kembangjaya
Editor : Abdul Rochim