Kisah Asal-Usul Pati : Penjodohan Raden Menak Jasari dengan Dewi Retna Nawangwulan (1-bersambung)

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 11:35 WIB
Adipati Paranggaruda bernama Yujopati duduk di hadapan para orang kepercayaannya. (sumber: Asal-usul Pati)
Adipati Paranggaruda bernama Yujopati duduk di hadapan para orang kepercayaannya. (sumber: Asal-usul Pati)

RADAR PATI - Di lereng Gunung Sedhaku berdiri sebuah negeri makmur bernama Paranggaruda. Negeri ini terkenal kuat dan disegani oleh wilayah lain.

Pemimpinnya adalah Adipati Yujopati, sosok penguasa yang gagah, berwibawa, sekaligus sakti. Ia hanya memiliki satu anak laki-laki bernama Raden Bagus Menak Jasari.

Sebagai anak tunggal, Jasari tumbuh dalam limpahan kasih sayang. Hampir semua keinginannya selalu dikabulkan oleh sang ayah.

Maklum, ia adalah satu-satunya penerus tahta Paranggaruda. Sejak kecil, Jasari sudah dipersiapkan untuk kelak menggantikan ayahnya memimpin negeri.

Suatu hari di balai kadipaten, Adipati Yujopati mengadakan pertemuan dengan para pejabat dan prajurit. Dalam kesempatan itu, ia juga memanggil putranya.

Sang Adipati merasa sudah waktunya Jasari menikah dan membangun rumah tangga.

“Anakku, sekarang usiamu sudah dewasa. Ayah ingin kamu segera menikah,” kata sang adipati.

Sebagai anak yang patuh, Jasari tidak menolak. Ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada ayahnya. Mendengar jawaban itu, hati Adipati Yujopati merasa lega.

Ia berharap segera memiliki cucu yang akan meneruskan garis keturunan keluarga.

Pilihan calon istri pun jatuh pada seorang putri cantik dari Kadipaten Carangsoka, yaitu Dewi Retna Nawangwulan.

Untuk menyampaikan lamaran, sang adipati mengutus Patih Singapati bersama rombongan prajurit terbaik menuju Carangsoka.

Di Kadipaten Carangsoka, hiduplah Dewi Retna Nawangwulan, seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun. Kecantikannya begitu terkenal.

Banyak orang memuji pesonanya yang dianggap sempurna. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan anggun dengan wajah bersinar, kulit kuning langsat, rambut panjang indah

Sorot mata juga tajam seperti cahaya lampu di malam hari. Tak heran jika banyak pria terpikat padanya.

Namun pagi itu, Nawangwulan tampak murung di taman keputrian. Ia hanya ditemani pengasuh setianya, Emban Gandekluwes.

Rupanya semalam ia bermimpi bertemu seorang pria tampan yang mengaku sebagai dalang bernama Sapanyana.

Dalam mimpinya, Sapanyana adalah dalang luar biasa. Ia mampu memainkan wayang dengan kemampuan yang tidak biasa.

Konon, gamelan dan wayangnya bisa bergerak sendiri tanpa perlu dimainkan secara langsung. 

Para penabuh musiknya bahkan disebut sebagai saudara perempuannya sendiri.

Pertunjukan itu terasa begitu nyata hingga membuat Nawangwulan penasaran dan ingin melihatnya secara langsung.

Emban Gandekluwes mencoba menenangkan sang putri. Menurutnya, mimpi hanyalah bunga tidur.

Namun Nawangwulan merasa mimpi itu bukan mimpi biasa. Ia percaya mimpi tersebut adalah pertanda tentang jodohnya di masa depan.

Tak lama kemudian, seorang utusan datang memanggil Nawangwulan untuk menghadap ayahandanya di balai kadipaten.

Di sana telah berkumpul Adipati Carangsoka beserta permaisuri dan para pejabat kerajaan. Utusan dari Paranggaruda juga hadir untuk menyampaikan lamaran Raden Bagus Menak Jasari.

Sebagai orang tua yang bijaksana, Adipati Carangsoka tidak langsung menerima lamaran tersebut.

Ia ingin memastikan bahwa putrinya setuju dengan rencana pernikahan itu.

“Nawangwulan, usiamu sudah cukup dewasa. Ada lamaran dari Paranggaruda. Bagaimana pendapatmu?” tanya sang ayah dengan lembut.

Mendengar pertanyaan itu, Nawangwulan terdiam. Pikirannya masih teringat pada sosok Sapanyana dalam mimpinya. Akhirnya ia memberanikan diri menyampaikan syarat.

Ia bersedia menikah, tetapi hanya jika dalam pesta pernikahannya diadakan pertunjukan wayang oleh Dalang Sapanyana.

Ia menggambarkan kehebatan dalang tersebut yang mampu membuat gamelan dan wayangnya bergerak sendiri.

Permintaan itu membuat semua orang terkejut. Tidak ada yang pernah mendengar dalang dengan kemampuan seperti itu.

Bahkan Adipati Carangsoka sendiri merasa heran dari mana putrinya mengetahui sosok tersebut.

Namun Nawangwulan bersikeras. Ia mengatakan lebih baik tidak menikah sama sekali jika permintaannya tidak dipenuhi.

Melihat tekad putrinya, Adipati Carangsoka akhirnya menyampaikan syarat tersebut kepada utusan Paranggaruda.

Ia meminta agar pihak pelamar menghadirkan Dalang Sapanyana dalam pesta pernikahan.

Utusan Paranggaruda pun kebingungan. Tidak ada yang tahu di mana dalang misterius itu tinggal.

Namun karena lamaran telah diterima dengan syarat tertentu, mereka harus berusaha mencari sosok Sapanyana.

Sementara itu, Nawangwulan kembali ke taman keputrian dengan perasaan penuh harap. Ia yakin suatu saat akan bertemu dengan pria dalam mimpinya.

Baginya, pernikahan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga tentang menemukan pasangan yang benar-benar sesuai dengan isi hati. (1-bersambung)

Baca Juga: Kisah Asal-usul Pati : Hubungan Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Retak

Editor : Abdul Rochim
sejarah asal usul Pati carangsoka paranggaruda Dewi Retna Nawangwulan Raden Bagus Menak Jasari