RADARPATI.ID - TONO (bukan nama sebenarnya) sangat mencintai istrinya sebut saja namanya Tuti. Keduanya telah menikah selama sepuluh tahunan ini. Dia juga sudah dikaruniai dua anak yang sudah bersekolah SD.
Kehidupan rumah tangganya cukup harmonis. Tono adalah seorang pegawai di kantor kabupaten.
Gajinya sudah cukup lumayan. Dia juga punya usaha sampingan yaitu sewa mobil.
Selain sewa mobil dia juga punya usaha toko beras yang lumayan besar warisan dari orang tuanya. Sudah punya banyak pelanggan.
Tono punya semangat tinggi untuk menjadi sukses. Dia sosok laki-laki yang mau bekerja keras. Untuk mendapatkan kebahagiaan dan kekayaannya.
Karena itu Tono selalu berambisi untuk bisa memperbesar usahanya tersebut. Baik usaha sewa mobil dan juga toko beras.
Sialnya Tono justru kepincut judi online. Dia iseng-iseng main judi online dan sempat tembus.
Tono berpikir dari judi tersebut dia bisa memperbesar usahanya. Caranya dengan menyisihkan sedikit keuntungan untuk berjudi.
Namun Tono lebih sering kalah. Walaupun begitu Tono tetap pantang menyerah untuk mencoba lagi dan lagi. Nilai judinya pun semakin besar.
"Siapa tahu yang ini tembus lagi. Biar bisa dapat modal banyak untuk membuat usaha semakin besar," kata Tono.
Namun bukannya untung Tono justru buntung. Uang judi hasil pinjaman dari bank harus segera dikembalikan, namun Tono tidak lagi punya uang.
Lalu satu per satu asetnya dijual untuk menutup utang. Termasuk beberapa mobil yang disewakannya harus terjual.
Toko berasnya pun rencananya mau dijual juga. Usahanya dalam waktu singkat hancur lebur.
Usaha sewa mobil berhenti, dan usaha jual beras berhenti karena dia tidak jalan karena kehabisan modal.
Gaji dari kantor setiap bulan juga terkuras untuk membayar hutang beserta bunga-bunganya.
"Menyesal aku kenapa sampai kepincut judi begini. Usaha sudah mapan hancur sudah," paparnya.
Tidak hanya usahanya yang hancur, keluarganya pun berantakan. Istri dan anaknya minggat, karena tak tahan dengan kondisi ekonominya.
Terlebih saat ini sering kali orang-orang datang ke rumah nagih hutang. Hal itu membuat sang istri tidak betah.
"Aku pusing setiap hari ada saja orang marah-marah nagih hutang, aku pergi dulu," kata Tuti. (aua/zen)
Editor : Abdul Rochim