KUDUS – Di tengah tren ngabuburit dengan berburu takjil atau berswafoto di ruang publik, Rofida Ilya memilih cara berbeda.
Warga Kudus ini mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan membaca buku.
Baginya, menunggu azan magrib tak harus selalu riuh, justru bisa menjadi momen tenang untuk “me time”.
“Kenapa ya, suka aja sih,” ujarnya sambil tersenyum.
Kebiasaan ini sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu ia lebih sering membaca di rumah saat Ramadan.
Namun tahun ini, Rofida mulai beberapa kali membawa bukunya ke ruang publik, termasuk kafe-kafe di Kudus, terutama pada hari biasa.
Sesekali ia bergabung dengan teman komunitas literasi. Meski begitu, ia mengaku lebih sering menikmati waktu membaca sendirian.
Suasana kafe yang tidak terlalu bising justru membuatnya nyaman. “Saya gunakan untuk me time,” katanya.
Kecintaan Rofida pada buku tumbuh sejak kecil.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, sepulang sekolah ia kerap bermain ke rumah temannya yang lokasinya dekat toko buku.
Dari situlah ia mulai akrab dengan buku, meski belum benar-benar gemar membaca. Kegemaran itu tumbuh kuat sejak masa kuliah.
Genre bacaan favoritnya beragam, mulai dari novel, fiksi sejarah, isu-isu perempuan, hingga buku pengembangan diri.
Ramadan pun tidak ia jadikan ajang memasang target muluk.
“Nggak ada target khusus. Biasanya sebulan bisa selesai satu buku kalau tipis. Kalau tebal dan nggak terlalu berat, ya sekitar sebulan juga,” jelasnya.
Saat ini, ia tengah membaca kumpulan cerpen berjudul Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan.
Buku tersebut banyak mengangkat persoalan perempuan dari berbagai sudut pandang.
Tema itu sejalan dengan minat bacanya yang kerap bersinggungan dengan isu-isu sosial.
Apakah tidak jenuh menatap deretan tulisan saat orang lain menikmati senja Ramadan? Rofida justru merasakan sebaliknya.
“Lebih tenang dan asik sih. Kalau baca buku itu kan kita bermain imajinasi. Rasanya kayak lagi muter film, tapi di otak sendiri,” tuturnya.
Meski menikmati ngabuburit dengan buku, Rofida tetap bersosialisasi.
Jika ada agenda buka bersama, ia pun ikut bergabung.
Namun lebih sering, setelah menutup halaman terakhir sebelum azan, ia memilih berbuka puasa di rumah.
Bagi Rofida, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh lewat kata-kata. (dik)
Editor : Abdul Rochim