Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kampanyekan Slow Fashion, Anak Muda asal Salatiga Ini Bertujuan Kurangi Limbah

Intan Maylani Sabrina • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 23:33 WIB
KUALITAS: Beberapa brand lokal yang terapkan slow fashion.
KUALITAS: Beberapa brand lokal yang terapkan slow fashion.

RADARPATI.ID - KEBERADAAN  slow fashion turut berpengaruh terhadap kehidupan global.

Isu-isu berkelanjutan (sustainability) terkait lingkungan tentunya akan banyak menimbulkan perubahan di berbagai industri, termasuk industri mode atau fashion ini.

Brand lokal mulai memiliki kesadaran mengenai dampak industri fast fashion yang selama ini berdampak pada polutan lingkungan yang cukup parah.

Beruntungnya brand di Indonesia mulai banyak yang merambah ke slow fashion.

Salah satu pengamat fashion, Gisheila Miftanisa, menyebut jika slow fashion ini sangat berpengaruh terhadap dunia.

“Karena dengan adanya slow fashion ini kita jadi sangat amat mengurangi limbah fashion yang ada di pasaran.

Karena slow fashion ini biasanya mereka itu mengutamakan kualitas dan daya tahan terhadap produknya itu kan,” jelasnya.

Menurutnya, jika fast fashion mengacu pada industri yang memproduksi pakaian secara massal, cepat, sesuai tren dan murah.

Sehingga para konsumen rela untuk tidak berlama-lama mengenakan pakaian itu.

Berbeda dengan slow fashion ini yang mengutamakan kualitas.

“Jadi dia tidak mengutamakan kuantiti tapi lebih ke kualitas. Biasanya lokal-lokal produk sudah mulai mikirin hal-hal itu.

Apalagi lokal produk di Indonesia. Salah satunya kayak CottonInk, KAMIIDEA, Sejauh Mata Memandang, yang memang mereka lebih mengutamakan kualitas.

Bukan lagi kuantitas yang besar, produksi yang sangat masif. Kayak gitu,” ungkapnya.

Bagi Gishel, slow fashion ini juga memiliki cara promosi yang unik. Selama ini mereka punya komunitas sendiri, serta cara marketing sendiri.

“Akhirnya mengundang banyak peminat. Biasanya peminat itu yang suka dengan pakaian lucu dan jarang ada di pasaran.

Kemudian pemakaiannya pun bertahan dalam rentang waktu yang lebih lama. Meski untuk harga juga cukup tinggi.

Bahkan, biasanya yang slow fashion ini mereka punya ciri khas tersendiri di setiap brandnya,” kesannya.

Berbeda dengan fast fashion, yang memiliki tipe baju-bajunya yang lebih basik.

“Yang paling berdampak dari slow fashion ini tentunya lingkungan itu tadi sih.

Karena pendekatan slow fashion ini kan produksi pakaian dalam jumlah sedikit dan tahan lama. Rata-rata juga mulai merambah ke pewarna alami. Itu sangat amat mengurangi limbah lingkungan juga,” ujarnya.

Dia pun berharap masyarakat semakin melek fashion dengan memiliki less lifestyle.

Serta lebih banyak anak muda yang mengkampayekan, dimakusud semakin terus terpapar informasi semacam itu maka lambat laun mereka akan berusaha memperhatikan dan mulai menerapkan. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#slow fashion #fast fashion #fesyen #limbah