RADAR PATI - REMBANG punya ragam makanan kuliner khas. Salah satu icon yang melegenda dumbeg.
Bukan hanya melegenda di acara sedekah bumi atau laut, kini dijadikan oleh-oleh untuk keluarga maupun kolega.
Dumbeg tawarkan tesktur kenyal dan aroma manis gula aren. Setiap gigitanya menawarkan sensasi nostalgia.
Baca Juga: Mencicipi Kuliner Nasi Jangkrik Warisan Sunan Kudus, Bertahan hingga Lintas Zaman
Hidangan ini begitu dinikmati dalam acara-acara budaya, formal.
Seiring perkembangan dunia kuliner, kini muncul aneka vaarin.
Rasa dumbeg makin variatif.
Pecinta makanan bisa menikmati original. Bahkan sekarang makin komplit ditambah rasa buah-buahan.
Produk ini satu-satunya bisa dijumpai di salah satu home produksi desa Mondoteko, Kecamatan/Kabupaten Rembang.
Pemilik Bisnis Oleh-Oleh khas Rembang, Eni Yuliastuti membenarkan dumbeg buatanya menawarkan aneka rasa.
Awalnya original pada umumnya. Adanya permintaan merambah aneka rasa yang membuat kalangan anak-anak suka.
”Selain original, dari bahan sama gula di beri sentuhan rasa durian, pandan dan strowbery, coklat dan orange,” kata Eni ditemui Jawa Pos Radar Kudus di rumahnya.
Dumbeg aneka rasa dikembangkan pada tahun 2016. Bahan dasarnya hampir sama. Ada tepung pati dan tepung beras, ada gula aren.
Sentuhan rasa lain ada lima varian rasa, durian, pandan, strowbery, coklat dan orange.
”Kita kembangkan sendiri. Suami punya ide, akhirnya orang mengenal dumbeg aneka rasa,” katanya.
Eni menjelaskan proses pembuatan sama. Proses dimulai menyiapkan adonan. Lalu bikin wadahnya berbentuk kerucut, di Rembang familiar disebut ”wurung”.
Untuk penyajian dibagi beberapa bagian sesuai rasa.
Lalu dumbeg dikukus hingga matang. Waktu yang dibutuhkan memakan waktu 2-3 jam.
kemudian di didinginkan hingga teksturnya menjadi padat dan kenyal.
Bahkan ditangan kreatifnya pernah membuat dumbeg jelly dengan sensasi lumernya.
”Sering digunakan oleh-oleh, tidak hanya acara tradisional saja seperti sedekah laut maupun bumi,”terangnya.
Dumbeg aneka rasa tidak ready setiap hari. Hanya saat ada pesanan-pesanan. Karena waktunya tidak bisa bertahan lama.
Untuk buatannya bisa bertahan dua hari, pasalnya tidak ada bahan pengawet.
Dumbeg ini enak disantap untuk keseharian sebagai camilan. Untuk harga terjangkau per biji Rp 2.000-an.
Biasanya pembeli memilih dalam bentuk paket. Dengan segmen beda, sehingga icon kuliner tersebut tidak familiar dijumpai di pasar-pasar.
”Kita terapkan minimal order. Biasanya langsung diambil pemesan. Jadi jarang yang minta via paket,” pungkasnya. (noe/him)