Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Mencicipi Kuliner Nasi Jangkrik Warisan Sunan Kudus, Bertahan hingga Lintas Zaman

Andika Trisna Saputra • Sabtu, 4 Juli 2026 | 10:58 WIB

MADANG: Salah satu pengunjung memesan nasi jangkrik untuk makan malam di angkringan tersebut. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
MADANG: Salah satu pengunjung memesan nasi jangkrik untuk makan malam di angkringan tersebut. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

RADAR PATI - DI tengah ragam kuliner khas Kabupaten Kudus, nasi jangkrik masih menjadi salah satu sajian legendaris yang bertahan lintas zaman.

Makanan tradisional yang identik dengan bungkus daun jati ini tetap eksis dan menjadi buruan warga, terutama saat malam hari. 

Salah satu penjaga cita rasa khas itu adalah Siti Mahmudah (64), warga Desa Kauman, Kecamatan Kota, yang sudah lebih dari dua dekade menggeluti usaha nasi jangkrik.

Baca Juga: Ayam Pencok Kuliner Khas Grobogan, Ayamnya Dibakar Utuh, Disantap dengan Sambal Urap

Siti menuturkan, usahanya sudah berjalan lebih dari 20 tahun.

Perjalanan warungnya berpindah beberapa kali, mulai dari kawasan Jalan Sunan Kudus, kemudian ke barat Perempatan Sucen, hingga kini menetap di selatan Perempatan Sucen dengan nama Warung Nasi Jangkrik Kidul Sucen.

Konsep yang diusung berupa angkringan sederhana yang buka dalam dua sesi, siang dan malam.

“Kalau siang buka jam 11 sampai maghrib, lanjut lagi sampai jam 11 malam. Tapi nasi jangkrik biasanya khusus malam, karena memang lebih cocok dimakan malam hari,” ujarnya.

Menurut Siti, nasi jangkrik bukan sekadar makanan biasa, tetapi bagian dari warisan kuliner kuno yang sudah dikenal sejak era Mbah Sunan Kudus.

Ia menyebut, sejak zaman Sunan Kudus sudah dikenal dua jenis nasi khas, yakni nasi jangkrik dan nasi uyah asem.

Dahulu, nasi jangkrik dibuat dari balungan kambing sebagai bahan utama.

Kini, isi nasi jangkrik berkembang lebih variatif. Dalam satu bungkus biasanya berisi nasi, daging, tahu, telur, kentang, dan terkadang kubis sesuai permintaan pelanggan.

Siti mematok harga Rp 13 ribu per bungkus, meski ada juga pelanggan yang meminta isi lebih sederhana, seperti nasi dan daging saja.

“Dagingnya pakai kerbau dan kambing. Saya tidak pernah pakai sapi, karena rasanya beda. Kalau sapi itu cenderung manis, sedangkan kerbau seratnya lebih halus dan cocok untuk nasi jangkrik,” jelasnya.

Proses memasak daging pun tidak singkat. Agar teksturnya empuk, Siti membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam.

Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar 4 sampai 5 kilogram daging yang bisa menghasilkan sekitar 150 bungkus nasi jangkrik.

Keunikan lain nasi jangkrik terletak pada bungkus daun jati. Selain menjaga tradisi, daun jati dipercaya memberi aroma khas yang membuat rasa makanan lebih sedap dibandingkan pembungkus kertas.

“Kalau dibungkus daun jati aromanya lebih keluar. Memang lebih enak,” katanya.

Selain nasi jangkrik, warung miliknya juga menyediakan nasi lodeh, nasi kucing, meniran, mie, hingga aneka lauk seperti mangut, lele, ikan bakar, dan sayur bening untuk menu siang.

Tak hanya itu, tersedia pula minuman rempah seperti wedang sampah dan wedang uwuh yang cocok menemani santapan malam.

Siti mengaku, nasi jangkrik juga kerap dipesan untuk berbagai acara seperti hajatan, pernikahan, hingga selamatan. Permintaan itu menjadi bukti bahwa kuliner khas Kudus ini masih memiliki tempat di hati masyarakat.

“Orang luar Kudus banyak yang penasaran karena namanya nasi jangkrik. Padahal bukan nasi pakai lauk jangkrik, itu Cuma nama saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari harga awal Rp 7 ribu hingga kini Rp 13 ribu per bungkus, nasi jangkrik tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner malam Kudus.

Dengan bumbu sederhana seperti cabai, bawang merah, bawang putih, santan, dan rempah pilihan, cita rasa gurih dan kaya aroma masih terus dijaga, menjadikannya bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya kota kretek. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
#kuliner khas Kudus #nasi jangkrik #nasi uyah asem #wisata kuliner kudus #sunan kudus