Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dulu Disajikan Pakai Satai Menthok, Begini Sejarah Mie Thek Thek Godong Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Minggu, 17 Mei 2026 | 09:18 WIB
CITA RASA: Menikmati mie Tek Tek Godong yang melegenda. (INTAN MAYLANI/RADARPATI)
CITA RASA: Menikmati mie Tek Tek Godong yang melegenda. (INTAN MAYLANI/RADARPATI)

GROBOGAN- Di Godong, Kabupaten Grobogan, mie tek tek bukan sekadar menu pengganjal lapar malam hari. Kuliner ini sudah seperti warisan rasa yang turun-temurun, melekat kuat di ingatan warga sejak puluhan tahun silam. 

Bahkan, dulu mie tek tek identik dengan pendamping yang kini mulai langka yakni satai menthok.

Cerita panjang mie tek tek ini dituturkan Hamdan (63), penjual Mie Tek Tek Lek Ndan Godong.

Ia mengatakan, kuliner tersebut mulai dikenal di wilayah Godong sejak akhir 1970-an, sekitar tahun 1978 hingga 1979.

Mulanya, mie tek tek dibawa oleh Mbah Nyaman, warga Mranggen, Kabupaten Demak. Dari sana, kuliner ini masuk ke Dusun Nunjungan, Desa Ketitang, Kecamatan Godong, yang kemudian menjadi salah satu titik awal berkembangnya mie tek tek di Grobogan.

Pada masa itu, suasana kampung masih sepi pedagang makanan. Penjual mie tek tek keliling justru menjadi penyelamat perut warga saat malam tiba.

“Dulu masih sepi penjual, jadi makanan ini dikenal dan ditunggu-tunggu warga di wilayah Godong,” kata Hamdan.

Mbah Nyaman kala itu berjualan dengan cara berkeliling, membawa dagangan menggunakan wakul. Setiap kali datang, warga sudah hafal ritmenya.

Anak-anak sampai orang dewasa kerap menunggu di depan rumah, seolah tahu kapan mie hangat itu akan lewat.

Karena laris dan semakin dikenal, tetangga sekitar mulai ikut berjualan. Tradisi itu kemudian menyebar, bahkan diwariskan ke anak-anak mereka.

Dari satu penjual, muncul banyak penjual mie tek tek lain yang menjajakan menu serupa di wilayah Godong.

"Sekarang nyebar di beberapa desa di Kecamatan Godong. Satu desa bisa mencapai 200 penjual. Mereka berjualan menyebar ke berbagai daerah seperti Demak hingga Jepara. Semuanya pada ngelajo, malam balik rumah lagi," imbuhnya.

Namun seiring waktu, cara berjualan pun berubah. Hamdan menyebut sekitar tahun 2002, banyak penjual mulai tidak lagi keliling. Mereka memilih mangkal di titik-titik tertentu yang lebih strategis.

Meski begitu, jam jualan tetap tak berubah. Mie tek tek tetap identik sebagai kuliner malam.

“Jualan malam, mulai jam 19.00 sampai 01.00 dini hari,” jelas generasi kedua Mie Thek Thek Lek Ndan ini.

GENERASI KEDUA: Mie Tek Tek Lek Ndan Godong menjadi generasi kedua.
GENERASI KEDUA: Mie Tek Tek Lek Ndan Godong menjadi generasi kedua.

Nama mie tek tek sendiri muncul bukan tanpa alasan.

Hamdan menuturkan, sebutan itu berasal dari bunyi khas saat memasak. Ketika mie digoreng atau direbus di wajan besar, penjual memukul wajan atau alat masak menggunakan kayu atau susruk.

Suara tik tek tik tek itu yang kemudian melekat di telinga warga.

“Karena dari wajan yang ditutuk kayu susruknya saat masak, bunyinya tik tek tik tek,” ungkapnya.

Soal rasa, mie tek tek sebenarnya sederhana. Hanya ada dua pilihan utama, yakni mie goreng dan rebus.

Namun yang membuatnya khas adalah racikan bumbu yang kuat. Hamdan menyebut bumbunya menggunakan kemiri, merica, serta rempah-rempah yang menghasilkan cita rasa gurih pedas yang “nendang”.

Meski sama-sama mie tek tek, ia mengakui setiap penjual punya racikan sendiri. Yang membuat mie tek tek Godong semakin istimewa adalah pendampingnya.

Biasanya, satu porsi mie tek tek disajikan bersama satai lima tusuk yang disiram kecap kental.

Namun Hamdan mengungkapkan fakta menarik. Dahulu satai tersebut bukan sate ayam. "Melainkan satainya dari menthok,” ujarnya.

Tetapi karena sekarang harga menthok semakin mahal, banyak penjual akhirnya mengganti dengan sate ayam agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

Sementara itu, Sekretaris Disporabudpar Grobogan Yunus Surya menambahkan, mie tek tek punya kaitan erat dengan kisah para perantau dari Ketitang Godong yang berjuang mencari penghidupan. 

Menurutnya, banyak pejuang rezeki memilih jualan mie karena bahan bakunya mudah didapat dan proses memasaknya bisa dilakukan langsung di tempat.

Ia menyebut mie tek tek berkembang pesat karena gaya jualannya yang khas, yakni keliling malam menggunakan gerobak, sembari membunyikan kentongan bambu sebagai penanda.

Nama tek-tek juga dipercaya muncul karena bunyi bambu atau wajan yang dipukul pedagang keliling untuk memberi sinyal bahwa mereka datang.

Meski begitu, ada juga versi sejarah lain yang menyebut mie tek tek pertama kali muncul di Jakarta pada era 1960-an.

Kuliner ini diyakini merupakan adaptasi dari bakmi China yang kemudian dimodifikasi sesuai selera masyarakat Indonesia, sehingga rasanya lebih pedas, gurih, dan merakyat. (int)

Editor : Admin
#mie thek thek godong #mie tek tek godong #lek ndan #nunjungan #grobogan