KUDUS – Di tengah gempuran minuman kekinian yang ramai di media sosial, sebuah warung sederhana di Jekulo, Kudus, justru menawarkan kesegaran yang tak lekang oleh waktu.
Terletak di samping pojok Puskesmas Jekulo, warung es dawet milik Hartini tetap setia melayani pembeli sejak tahun 1975 — tanpa spanduk, tanpa nama, namun selalu ramai dikunjungi pelanggan.
Warung ini hanya buka dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dalam rentang waktu itu, pembeli datang silih berganti.
Meski tak ada papan nama atau menu yang terpajang, warga sekitar dan pelanggan setia sudah tahu: warung mungil berdinding anyaman bambu putih itu adalah tempat menikmati es dawet legendaris.
Hartini, sang pemilik, adalah warga Desa Jekulo Karang. Di usianya yang ke-62 tahun, ia masih semangat melayani pelanggan dengan ramah.
Ia menuturkan bahwa usaha ini merupakan “warisan” keluarga yang telah ada sejak zaman penjajahan Jepang.
“Saya mulai jualan tahun 1975, meneruskan usaha mbah saya yang sudah jualan dari zaman Jepang. Tempatnya ya di sini-sini saja, dulu juga bentuknya sederhana,” ujar Hartini, Rabu (30/7/2025).
Warung ini hanya berukuran sekitar 3 x 3 meter. Bagian depannya ditutup selembar kain putih tipis, tanpa dekorasi mencolok.
Di dalamnya, terdapat tiga bangku kayu panjang yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk dan menyeruput es dawet khas Hartini.
Rasa Khas
Salah satu yang membuat es dawet ini begitu digemari adalah cita rasanya yang khas. Rasanya juga konsisten.
Sirup merah manis bercampur potongan buah nangka memberikan aroma harum dan rasa manis alami.
Kuah santannya kental, gurih, dan terasa segar saat menyentuh tenggorokan.
Es dawet ini dijual seharga Rp4.000 per gelas — murah, namun rasanya jauh dari kata biasa.
Tak hanya menjual es dawet, Hartini juga menyediakan gorengan seperti bakwan sayur.
Pembeli kerap mendapat bonus gorengan. Misalnya saat membeli 4 biji bakwan, tidak jarang Hartini memberi tambahan gratis 1 biji.
Banyak pelanggan yang memilih membawa pulang es dawet, namun tak sedikit pula yang memilih duduk sejenak menikmati suasana santai warung kecil ini — sebuah pengalaman yang kini langka di tengah modernitas.
Melewati Zaman, Menyentuh Kenangan
Warung es dawet Hartini bukan sekadar tempat jajan. Ia adalah saksi bisu sejarah kuliner rakyat yang bertahan melintasi dekade demi dekade.
Meski tampil sederhana dan tanpa promosi di media sosial, kehadirannya tetap dicari dan dirindukan banyak orang.
Di era serba instan ini, di tengah gempuran minuman-minuman kekinian, kesegaran tradisional dari segelas es dawet buatan Hartini tak serta merta tergantikan.
Kesegaran es dawet ini menjadi pengingat bahwa kelezatan tidak selalu datang dari kemewahan, tapi dari ketulusan rasa dan sejarah panjang yang mengiringinya. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab