JEPARA, RadarPati.id - Horok-horok merupakan makanan khas Jepara yang memiliki sejarah panjang, terutama di masa penjajahan Jepang.
Pada tahun 1942, saat Jepang menduduki wilayah Jepara, masyarakat dilarang mengonsumsi nasi.
Larangan ini diberlakukan dengan ketat, dan siapa pun yang melanggarnya dapat dijatuhi hukuman berat, termasuk hukuman mati.
Sebagai makanan pokok yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, hilangnya nasi dari konsumsi mereka menimbulkan kesulitan yang besar.
Namun, kondisi ini mendorong mereka untuk mencari alternatif lain agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan.
Bahkan, ada yang menyebut horok-horok sebagai "sego radio" atau nasi radio, sebuah istilah yang muncul karena masyarakat tidak bisa makan nasi secara terang-terangan.
Konon, ketika tentara Jepang datang, nasi yang berhasil didapatkan rakyat akan disembunyikan di bawah horok-horok agar tidak terlihat.
Horok-Horok sebagai Warisan Kuliner Jepara
Setelah masa penjajahan berakhir, horok-horok tidak serta-merta ditinggalkan oleh masyarakat.
Sebaliknya, makanan ini tetap bertahan dan berkembang menjadi salah satu kuliner khas Jepara.
Seiring waktu, variasi penyajian horok-horok pun berkembang. Selain dinikmati dengan lauk pauk seperti sate kikil dan pecel.
Makanan ini juga bisa disajikan menyerupai bubur dengan campuran santan atau susu dan sedikit gula pasir, memberikan sensasi rasa yang lebih kaya.
Horok-horok bukan sekadar makanan, tetapi juga saksi sejarah perjuangan masyarakat Jepara di masa sulit.
Dari sekadar alternatif pengganti nasi, kini horok-horok telah menjadi bagian dari identitas kuliner daerah yang terus dilestarikan.
Baca Juga: PROFIL Sri Setyorini, Wakil Bupati Blora Kakak Kandung Jenderal (Purn) Pol. Agus Andrianto
Keunikan dalam proses pembuatannya serta nilai historis yang terkandung di dalamnya menjadikan horok-horok lebih dari sekadar hidangan.
Kuliner ini adalah warisan budaya yang patut dihargai dan dijaga keberlangsungannya. (amr)