KUDUS, RADARPATI.ID - Gohyong makanan khas dari Fujian Tiongkok, yang sekarang ini lagi ramai-ramainya dan menjadi bidikan anak-anak muda sekarang.
Gohyong terdiri dari campuran daging, ayam, udang, dan telur yang dihaluskan, kemudian dibungkus dengan kulit tahu.
Gohyong biasanya dibentuk memanjang dan kemudian dikukus terlebih dahulu untuk mematangkan isinya.
Setelah itu, Gohyong dipotong-potong dan digoreng untuk memberikan tekstur yang renyah saat disantap.
Makanan tersebut menjadi populer, setiap daerah pasti ada Gohyong.
Seperti di Kudus, mulai dari kedai hingga pedagang kaki lima (PKL), juga menjajakan Gohyong.
Salah satu pemilik kedai Wontonova.id yang ada di RT:1/RW: 3, Desa Singocandi, Kecamatan Kota ini menyajikan menu-menu masakan khas Tiongkok, salah satunya Gohyong.
Pemilik kedai Novaninda Wahyu Wakhidatul Muna, mengatakan Gohyong ini sebenarnya sejak enam bulan lalu sudah ada, namun baru populer akhir-akhir ini.
Kedainya sudah menambahkan menu Gohyong jauh sebelum viral dan ia mencoba pasarkan di Kudus, setelah mencoba Gohyong saat di Solo.
”Awalnya saya itu membuatnya hanya Wonton (pangsit kuah), tapi setelah saya coba makan Gohyong, jadi penasaran coba dan akhirnya saya rilis di kedai saya. Awal-awal tidak begitu ramai, dalam artian menu utama masih Wonton, setelah ramai Gohyong dari Jakarta, baru di Kudus mengikuti trendnya dan sekarang ini jadi menu andalan,” ungkapnya.
Nova, menjelaskan bahan utama membuat Gohyong itu daging ayam dan daging sapi, dengan komposisi daging ayam lebih banyak.
Kemudian, untuk kulitnya ia juga membuat sendiri dan untuk kuahnya dibuat seperti cuko empek-empek.
”Ya saya waktu makan di Solo itu kuahnya kental dan persis cuko empek-empek. Tapi, ada bebera penjual Gohyong kuahnya seperti kuah bakso biasa. Dan, saya juga mengikuti refrensi dari youtobe maupun google, itu kuahnya memang kental seperti kuah cuko empek-empek,” jelasnya.
Untuk rasa kuahnya, menyesuaikan tergantung selera. Kalau yang suka pedas irisan cabe hijau kecil-kecil dipernyanya.
Nova mengatakan, kuahnya cenderung ada rasa manis dan asamnya.
”Rasa asamnya itu saya bikin tidak dari cukak, tapi dari buah asem yang menjadikan rasa asam. Kemudian, rasa masinya dari gula merah jawa, tidak gula aren. Pernah saya coba pakai gula aren tapi hasil rasanya berbeda,” ungkapnya.
Nova menjual Gohyong satu porsinya Rp 15 ribu dan sehari ia membutuhan dua kilogram daging ayam bagian paha dan daging sapi.
Kemudian cara membuatnya ia sangria tidak menggunakan minyak, sehingga kaldu didapat dari ayam dan daging sapi murni tanpa ada tambahan air.
”Saya membuat kulitnya, tidak terbuat dari kulit tahu, tapi menggunakan adonan telur dan tepung terigu yang mirip dengan kulit kue dadar namun lebih tipis,” jelasnya.
Nova menambahkan, untuk cara menghidangkan Gohyong bervariasi sesuai dengan preferensi, tradisi, dan kreativitas setiap daerah atau restoran yang menyajikannya. (san)
Editor : Achmad Ulil Albab