Bermodal Kaleng Bekas, Warga Kudus Sulap Sampah Plastik Jadi Cairan Mirip BBM

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:13 WIB
KREATIF: Benny Haryanto melakukan proses mengolah sampah plastik menjadi BBM di Bank Sampah Desa Rendeng, Selasa (13/10). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
KREATIF: Benny Haryanto melakukan proses mengolah sampah plastik menjadi BBM di Bank Sampah Desa Rendeng, Selasa (13/10). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Sampah plastik yang memiliki nilai jual relatif rendah mendorong Benny Haryanto, 49, warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, berinovasi.

Ia merakit alat sederhana dari barang bekas untuk mengolah plastik menjadi cairan yang diklaim menyerupai bahan bakar minyak (BBM).

Benny merupakan pegawai sekaligus pengelola Bank Sampah Karya Lestari yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Rendeng.

Baca Juga: Peran Warga Jadi Kunci Pembaruan Data Bansos di Kudus

Berbekal informasi dari YouTube dan Facebook, ia mencoba membuat alat pengolah plastik secara mandiri tanpa membeli mesin pirolisis komersial.

Alat tersebut dirakit menggunakan sejumlah barang bekas, mulai dari kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk semprot, toples, hingga botol.

Proses perakitan memakan waktu sekitar dua minggu.

“Saya tertarik melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini masih dalam tahap percobaan,” kata Benny saat ditemui di Bank Sampah Desa Rendeng, Selasa (13/10).

Ide itu muncul karena banyak warga menyetorkan sampah plastik ke bank sampah. Jika hanya dijual, menurut Benny, nilai ekonominya relatif rendah.

Ia kemudian mencoba mengolahnya menjadi cairan yang berpotensi memiliki nilai tambah.

Sampah Plastik Dipanaskan hingga Menjadi Cairan

Dalam prosesnya, Benny memasukkan plastik bersih ke dalam kaleng bekas biskuit yang berfungsi sebagai wadah pemanas.

Ketika dipanaskan, plastik menghasilkan uap yang dialirkan melalui pipa menuju perangkat pendingin.

Bagian pendingin dibuat dari kaleng bekas obat nyamuk semprot yang dimodifikasi.

Wadah tersebut dilengkapi ruang untuk es guna membantu menurunkan suhu uap hingga mengembun menjadi cairan.

“Ini saya lubangi untuk dimasukkan es. Fungsinya untuk mendinginkan uap supaya berubah menjadi cairan,” jelasnya.

Cairan yang terkumpul dari proses pertama masih berupa minyak mentah.

Benny kemudian memanaskannya kembali melalui penyulingan sederhana dengan harapan memperoleh hasil yang menyerupai bensin.

Ia memperkirakan satu kaleng bekas biskuit dapat menampung sekitar 0,3 kilogram plastik dan menghasilkan kurang lebih 40 mililiter cairan yang disebutnya setara bensin.

Namun, angka tersebut masih berdasarkan percobaan mandiri.

Hasilnya belum melalui pengukuran terstandar maupun pengujian laboratorium untuk memastikan komposisi dan kualitas cairan.

Menurut Benny, jenis plastik yang digunakan juga dapat memengaruhi jumlah dan karakteristik hasil olahan.

Karena itu, ia masih berusaha mempelajari bahan baku dan hasil produksi dari alat rancangannya.

Sudah Dicoba pada Sepeda Motor Pribadi

Untuk satu kali produksi, pemanasan plastik membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

Sementara itu, proses penyulingan lanjutan memerlukan sekitar 30 menit. Total waktu pengolahan diperkirakan mencapai dua jam.

Benny mengaku telah mencoba cairan hasil olahannya pada sepeda motor pribadi.

Uji coba terbaru dilakukan pada Selasa (13/10), dengan perjalanan pulang-pergi dari bank sampah menuju balai desa sejauh sekitar satu kilometer.

“Baru tadi pagi saya coba di motor. Ini masih uji coba,” ujarnya.

Meski telah melakukan percobaan tersebut, Benny belum dapat memastikan apakah cairan yang dihasilkan memenuhi standar mutu bensin dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Pengujian singkat pada kendaraan belum cukup untuk mengetahui dampaknya terhadap mesin.

Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui komposisi kimia, karakteristik pembakaran, kualitas bahan bakar, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan.

Pengolahan plastik melalui pemanasan juga berisiko menghasilkan gas dan uap berbahaya.

Karena itu, pengembangan alat semacam ini perlu memperhatikan ventilasi, pengendalian emisi, keselamatan kerja, dan pencegahan kebakaran.

Berharap Sampah Plastik Lebih Bernilai

Benny berharap eksperimennya dapat membuka peluang pemanfaatan sampah plastik yang dikumpulkan Bank Sampah Karya Lestari.

Ia ingin mencari alternatif agar sampah yang kurang bernilai jual dapat dimanfaatkan melalui inovasi.

Selain pengembangan teknologi pengolahan, ia menilai pemilahan sampah dari rumah tetap penting.

Warga diharapkan memisahkan sampah organik dan anorganik agar proses pengumpulan serta penanganan selanjutnya lebih mudah.

Bagi Benny, upaya mengurangi persoalan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sejak awal.

Meski demikian, cairan hasil percobaannya masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum dapat dinyatakan sebagai BBM yang memenuhi standar dan layak digunakan secara luas. (*)

Editor : Abdul Rochim
sampah plastik Kudus BBM dari sampah plastik Benny Haryanto Bank Sampah Karya Lestari inovasi pengolahan sampah