Sudah Ada Sejak 1968, Kuliner Sego Pindang Hj Sulichan Jadi Langganan Warga Lokal hingga Luar Kota

Rahardian Fajrul Falah • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 16:57 WIB
Sego Pindang HJ. Sulichan di Taman Bojana Kudus yang telah bertahan sejak 1968 dan kini diteruskan oleh generasi kedua keluarga (SALMA FITRIANI/MAGANG/RADAR KUDUS)
Sego Pindang HJ. Sulichan di Taman Bojana Kudus yang telah bertahan sejak 1968 dan kini diteruskan oleh generasi kedua keluarga (SALMA FITRIANI/MAGANG/RADAR KUDUS)

KUDUS - Sego Pindang Hj. Sulichan menjadi salah satu kuliner yang telah bertahan sejak 1968. 

Usaha keluarga yang kini diteruskan generasi kedua oleh Ina (50) tersebut berlokasi di Taman Bojana, Kudus, dan melayani pelanggan dari dalam maupun luar kota dengan menu pindang dan soto khas Kudus.

Usaha tersebut awalnya berjualan di sekitar Ramayana Kudus sebelum berpindah ke kawasan Taman Bojana sekitar 1997.

Perpindahan lokasi dilakukan mengikuti penataan kawasan yang dikelola Pemerintah Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Rahasia Kelezatan Resep Kuliner Khas Daerah yang Tetap Eksis Lintas Generasi

Ina mengatakan, usaha yang dirintis orang tuanya tersebut kini telah memasuki generasi kedua.

Meski mengalami perpindahan tempat, usaha keluarga itu tetap mempertahankan menu utama berupa pindang dan soto.

“Di sini semuanya soto Kudus, cuma masing-masing mungkin mempunyai rasa tersendiri karena cara masaknya berbeda,” kata Ina.

Menurutnya, pedagang kuliner di Taman Bojana mayoritas menawarkan soto Kudus.

Namun, setiap warung memiliki resep, takaran bumbu, dan cara memasak yang berbeda sehingga menghasilkan cita rasa masing-masing.

Sego Pindang HJ. Sulichan menyediakan empat menu utama, yakni pindang ayam, pindang kerbau, soto ayam, dan soto kerbau.

Seluruh menu tersebut dijual dengan harga Rp20 ribu per porsi.

Pelanggan dapat menikmati hidangan dengan atau tanpa nasi. Bahkan, pembeli yang hanya ingin memesan kuah juga tetap dilayani.

Pelanggan Sego Pindang HJ. Sulichan berasal dari berbagai daerah.

Tidak hanya warga Kudus, pelanggan dari luar kota juga kerap datang, termasuk rombongan yang sengaja mampir untuk menikmati kuliner sebelum melanjutkan perjalanan atau kegiatan di Kudus.

Jumlah porsi yang terjual setiap hari tidak dapat dipastikan karena jumlah pelanggan berubah-ubah.

Bahkan, ada pelanggan dari luar kota yang sudah menunggu sebelum warung dibuka.

Namun, saat jam makan siang, kondisi warung biasanya lebih ramai.

Warung mulai beroperasi sekitar pukul 07.00. Sementara waktu tutup tidak selalu sama karena menyesuaikan persediaan makanan, yakni sekitar pukul 19.00 hingga 20.00.

Dalam menjalankan usaha, naik turunnya jumlah pelanggan menjadi hal yang biasa.

Kenaikan harga bahan baku juga menjadi salah satu tantangan karena pihaknya tidak langsung menaikkan harga jual.

“Bahan baku naik, kita naik? Nggak juga. Bagaimana kita menikmati, tetap sama enaknya,” ujar Ina.

Operasional warung didukung sembilan pekerja yang terbagi dalam dua shift.

Lima orang bekerja pada shift pagi, sedangkan empat orang bertugas pada shift siang hingga malam.

Jika kondisi masih ramai ketika pergantian shift, pekerja pagi tidak langsung pulang dan ikut membantu melayani pelanggan hingga kondisi lebih sepi.

Cuaca juga turut memengaruhi jumlah pelanggan. Saat musim hujan dan terjadi banjir, pelanggan dari luar daerah seperti Semarang dan Pati dapat berkurang karena akses perjalanan terdampak.

Hingga kini, Sego Pindang HJ. Sulichan masih mempertahankan usaha yang telah diwariskan sejak 1968.

Menu pindang dan soto tetap menjadi sajian utama yang ditawarkan kepada pelanggan Kudus maupun luar daerah. (*)

Editor : Abdul Rochim
kuliner legendaris Kudus Sego Pindang HJ. Sulichan pindang Kudus kuliner kudus Soto Kudus