Pertukaran Pelajar Lokal di Kudus Dilirik Daerah Lain

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 19:14 WIB
PERTUKARAN PELAJAR: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris saat meresmikan program pertukaran pelajar lokal beberapa waktu lalu. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
PERTUKARAN PELAJAR: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris saat meresmikan program pertukaran pelajar lokal beberapa waktu lalu. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS – Program pertukaran pelajar lokal yang digagas Pemerintah Kabupaten Kudus mulai mendapat perhatian dari daerah lain. Salah satunya Kota Salatiga yang tertarik untuk menerapkan program serupa.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, program tersebut menjadi salah satu upaya memberikan pengalaman belajar berbeda bagi peserta didik.

Konsep pertukaran pelajar lokal juga terus dikembangkan berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya.

Pada batch kedua tahun ajaran 2026/2027, durasi pertukaran diperpanjang menjadi dua pekan. Sebelumnya, kegiatan tersebut hanya berlangsung selama satu pekan.

Baca Juga: Pembelajaran Koding dan Kecerdasar Aritifisial di Kudus Direplikasi Nasional

Menurut Sam’ani, penambahan durasi tersebut merupakan bagian dari penyempurnaan program, termasuk menindaklanjuti masukan dari para siswa.

Sekolah yang terlibat dalam program juga telah dipetakan. Selain siswa, guru turut mengikuti pertukaran untuk mendapatkan pengalaman pembelajaran dari sekolah tujuan.

Program pertukaran pelajar dan guru lokal batch 2 untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) tersebut telah selesai. Penarikan peserta dari sekolah tujuan dilakukan pada Agustus 2026, setelah kegiatan berlangsung selama dua pekan sejak 27 Juli 2026.

Total terdapat 290 pelajar dan 62 guru yang mengikuti program. Rinciannya, 210 siswa berasal dari 33 SD dan 80 siswa dari 20 SMP. Sementara itu, peserta guru berjumlah 62 orang yang berasal dari 31 SMP di Kabupaten Kudus.

Sam’ani mengatakan, Pemkab Kudus terbuka jika daerah lain ingin mempelajari konsep pertukaran pelajar lokal tersebut. Kota Salatiga, salah satunya, dapat datang langsung ke Kudus untuk melihat pelaksanaan program sekaligus berdiskusi mengenai penerapannya.

”Ya, kalau bisa pendidikan di Kudus ini menjadi pioner daerah-daerah lain. Salah satunya program pertukaran lokal dan guru yang dilakukan di Kudus,” jelasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho menyebut pelaksanaan batch kedua secara umum berjalan baik.

Menurutnya, tidak terdapat kendala signifikan selama program berlangsung. Keluhan yang muncul lebih banyak berkaitan dengan persoalan teknis, terutama transportasi serta proses perpindahan siswa dan guru dari sekolah asal menuju sekolah tujuan.

”Kalau saya mengatakan saat ini tidak ada kendala yang signifikan. Paling keluhannya yang dirasakan guru itu hanya transportasinya saja sama migrasi dari sekolah asal ke sekolah tujuan,” ujar Anggun. (san/him)

 

Editor : Abdul Rochim
pertukaran pelajar salatiga kudus