Sampah Pasar Tokiyo Jepang di Kudus Tak Lagi Kumpul Buang, Pedagang Siap Memilah Dulu

Abdul Rochim • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 09:03 WIB
GERAKAN: Pedagang Pasar Tokiyo, Desa Jepang, melaksanakan program pilah sampah kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
GERAKAN: Pedagang Pasar Tokiyo, Desa Jepang, melaksanakan program pilah sampah kemarin. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Pola pengelolaan sampah di Pasar Tokiyo, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, mulai diubah.

Sampah yang sebelumnya dikumpulkan dan dibuang, ke depan akan dipilah sejak dari lapak pedagang.

Pemerintah Desa (Pemdes) Jepang menyiapkan dua tempat sampah di setiap lapak.

Wadah tersebut digunakan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik.

Kepala Desa Jepang Indarto mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari pengelolaan sampah berbasis pemilahan yang dijalankan pemerintah desa pada 2026.

Baca Juga: Galeri UMKM di Kudus Bukukan Transaksi Rp 65 Juta

Penerapannya diawali dari lingkungan rumah tangga sebelum diperluas ke kawasan pasar.

“Di tahun 2026 ini, dalam rangka mendukung program Pemerintah Kabupaten terkait pemilahan sampah, kita ada program pengelolaan sampah berbasis pemilahan yang dimulai dari tingkat rumah tangga,” kata Indarto.

Pasar menjadi salah satu sasaran karena aktivitas perdagangan menghasilkan sampah cukup banyak setiap hari.

Nantinya, pedagang memilah sampah langsung di lapak masing-masing sehingga sampah tidak tercampur sejak awal.

Sampah organik dan anorganik akan ditempatkan pada wadah berbeda. Dengan begitu, proses pengangkutan hingga pengolahan dapat dilakukan berdasarkan jenis sampah.

Untuk sampah organik, Pemdes Jepang tengah menyiapkan koordinasi dengan pihak swasta. Pengambilan sampah organik direncanakan bekerja sama dengan Djarum Foundation.

“Untuk sampah organik nanti kami koordinasi dengan Djarum Foundation untuk pengambilannya. Sementara untuk sampah anorganik, kita upayakan agar bisa memberikan nilai ekonomis lebih,” ujarnya.

Uji coba pemilahan dari sumbernya juga telah dimulai di RT 1, RW 10. Setiap rumah diberikan dua tempat sampah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik.

Indarto mengatakan, pelaksanaan program akan dievaluasi secara berkala.

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kendala yang muncul sekaligus mencari solusi agar kebiasaan memilah sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan.

Pemdes berharap pemilahan tidak hanya dilakukan ketika program berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan warga dalam kehidupan sehari-hari.

Selain pengelolaan sampah, Pemdes Jepang menyiapkan fasilitas keamanan di kawasan pasar.

CCTV direncanakan dipasang untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pedagang maupun pengunjung.

Sementara dari sisi pelayanan, Pasar Desa Jepang saat ini tidak memberlakukan retribusi parkir.

Kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk respons atas masukan dari para pedagang.

“Ini dalam rangka mendukung dan menampung aspirasi masukan pedagang agar pengunjung tambah banyak, jadi kita tidak membebankan retribusi parkir ke pengunjung,” jelas Indarto.

Jumlah pedagang di pasar tersebut juga belum mengalami peningkatan signifikan. Keterbatasan tempat menjadi salah satu kendala.

Pengisian lapak dilakukan ketika terdapat pedagang yang berhenti berjualan.

Di luar pasar, lapangan desa turut dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan.

Fasilitas tersebut digunakan untuk olahraga, jogging hingga tes jasmani sejumlah instansi.

Masyarakat dapat menggunakan jogging track secara gratis. Sementara pemanfaatan lapangan untuk pertandingan dikelola oleh pengurus lapangan.

Pemdes Jepang berharap pembenahan pengelolaan sampah dan fasilitas pendukung dapat membuat aktivitas di kawasan pasar semakin nyaman.

Pasar diharapkan tidak hanya menjadi pusat kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi lingkungan yang bersih, tertib, dan aman. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
Desa Jepang Kudus Pasar Tokiyo Kudus sampah Pasar Tokiyo pemilahan sampah pengelolaan sampah