KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama stakeholder terkait menormalisasi Sungai Lusi yang melintasi Kecamatan Undaan.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi luapan sungai saat musim penghujan sekaligus melindungi lahan pertanian produktif.
Sekretaris BPBD Kudus Syarif Hidayat mengatakan, pengerukan sedimentasi Sungai Lusi dilakukan sepanjang enam kilometer.
Selain itu, tanggul di sisi timur sungai ditinggikan untuk mengurangi risiko limpasan air ke persawahan.
Baca Juga: PDIP Kudus Pastikan Banpol 2026 Digunakan Sesuai Aturan
”Peninggian tanggul ini punya tinggi dua meter, tanggul utama dua meter, tanggul sempadan dalam sungai dengan lebar enam meter,” katanya.
Peninggian tanggul tersebut diharapkan melindungi ratusan hektare lahan persawahan di Desa Lambangan.
Sebelumnya, limpasan Sungai Lusi kerap menggenangi area pertanian hingga menyebabkan tanaman padi puso.
”Ini upaya untuk menjaga area lahan produktif, sebelumnya kerap menggenangi persawahan itu dan mengakibatkan tanaman padi puso,” jelasnya.
Syarif menyebut penanganan sedimentasi dilakukan melalui kerja sama sejumlah pihak secara swadaya bersama petani.
Pemerintah desa dan kelompok tani menyuplai kebutuhan bahan bakar, sedangkan Dinas PUPR menyediakan alat berat bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Wilayah tersebut memang sering terdampak banjir karena posisi sungai lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian.
Berdasarkan catatan BPBD Kudus, pada 2026 persawahan sempat tergenang akibat limpasan hujan lokal dari daerah tangkapan air. Namun, tanaman padi masih dapat dipanen.
Normalisasi Sungai Wulan turut memberikan dampak positif dalam mengurangi limpasan air dari Sungai Lusi.
Selain Sungai Lusi, BPBD Kudus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengusulkan normalisasi Sungai Londo. Normalisasi di sisi timur Desa Wonosoco saat ini memasuki tahap akhir, setelah dikerjakan sejak 2023 hingga 2026.
Sementara itu, Sungai JU 3 di timur perbatasan Desa Lambangan dan Desa Berugenjang telah dinormalisasi pada 2025. (gal/him)
Editor : Abdul Rochim