KUDUS – Program Golek Garwo Sah atau Gerakan Mencari Pasangan Sah (Gegash) mulai menunjukkan hasil.
Dari sekitar 150 orang yang mengikuti program pencarian pasangan tersebut, satu pasangan telah resmi melangsungkan pernikahan.
Sejumlah peserta lainnya kini mulai memasuki tahap penjajakan yang lebih serius.
Baca Juga: Pos Kamling di Kudus Malah Jadi Arena Judi Dadu Digital, Enam Pemuda Diciduk
Direktur Program Gegash Muhammad Sholihul Huda mengatakan, perkembangan peserta cukup beragam.
Beberapa pasangan bahkan sudah mempertemukan keluarga sebagai bagian dari proses menuju pernikahan.
Salah satu pasangan yang berhasil dipertemukan melalui program tersebut merupakan seorang janda dan duda. Sang duda diketahui bekerja sebagai marbot masjid di Kota Semarang.
“Yang sudah menikah itu satu, janda dapat duda. Marbot di masjid Kota Semarang mendapat orang Semarang,” ujar Sholihul Huda, Senin (14/9).
Selain pasangan yang telah menikah, terdapat peserta yang kini tinggal menentukan waktu pernikahan setelah mendapat restu keluarga.
Salah satunya seorang karyawan asal Demak yang dipertemukan dengan seorang hafizah.
Peserta lainnya, seorang Kepala Raudhatul Athfal (RA) di kawasan Colo, juga tengah menjalani proses serius dengan karyawan perusahaan rokok di Kaliwungu, Kudus.
Menariknya, pencarian pasangan dalam program Gegash tidak terbatas pada sesama peserta.
Rauf, warga Jekulo, misalnya, berkenalan dengan perempuan asal Jepara. Sementara Ela dari Desa Jurang mendapat calon pasangan dari Blora.
Pengelola juga berusaha mencocokkan peserta berdasarkan kriteria yang mereka inginkan.
Salah satunya Cynthia, 30, perempuan berpendidikan S2 yang bekerja di perusahaan swasta.
Sebelumnya, Cynthia memiliki kriteria calon pasangan dengan penghasilan minimal Rp 10 juta per bulan.
Pengelola kemudian memperkenalkannya dengan pria yang dianggap sesuai dengan kriteria tersebut. Keduanya kini masih menjalani tahap penjajakan.
Keseriusan Jadi Syarat Utama
Sholihul Huda menegaskan, program Gegash tidak sekadar mempertemukan laki-laki dan perempuan.
Ada proses yang harus dilalui sebelum hubungan berlanjut ke jenjang pernikahan.
Dalam proses taaruf, calon pasangan perlu membangun komunikasi, kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi dan pengenalan keluarga masing-masing.
“Kalau jadi nikah, tolong kabari. Kami akan memberikan pendampingan juga ketika sudah nikah,” katanya.
Salah satu peserta yang dinilai aktif menjalani proses tersebut adalah Imron, 27, warga Pati.
Ia rutin menanyakan perkembangan pencarian pasangan dan sebelumnya telah dikenalkan dengan seorang guru Fisika.
Hubungan keduanya masih menunggu persetujuan keluarga.
Sementara itu, minat masyarakat terhadap program tersebut masih cukup tinggi meski pendaftaran tahap pertama telah ditutup.
Bagus, 26, warga Salatiga yang bekerja sebagai tenaga pendidik, datang untuk meminta bantuan mencari pasangan.
Ada pula Inayah, 29, tenaga kesehatan asal Rembang yang kini bekerja di Bekasi. Profil keduanya kemudian dipertukarkan sebagai tahap awal penjajakan.
Pengelola saat ini melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tahap pertama sekaligus mempersiapkan program berikutnya.
Sholihul Huda berharap peserta yang mengikuti proses benar-benar memiliki niat serius untuk membangun rumah tangga.
“Yang penting tingkat keseriusannya. Kalau tidak serius, kami mohon maaf tidak melanjutkan,” tegasnya. (*)
Editor : Abdul Rochim