Alami Hipotermia, Pendaki Puncak 29 Gunung Muria Tewas

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:18 WIB
Polisi dan relawan di RSUD Loekmonohadi Kudus usai mengevakuasi korban. (DOK. Ist)
Polisi dan relawan di RSUD Loekmonohadi Kudus usai mengevakuasi korban. (DOK. Ist)

KUDUSSeorang pendaki asal Kabupaten Rembang, Ahmad Alif Lutfian Fahmi, 32 meninggal dunia saat melakukan pendakian menuju Puncak 29 di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Senin (7/9) malam.

Korban diduga mengalami kelelahan dan hipotermia.

Korban ditemukan dalam kondisi lemas dan kemudian jatuh di sekitar petilasan Eyang Pandu atau Pos 5.

Baca Juga: Charly Van Houten Bakal Meriahkan Festival Budaya Situs Sumur Gentong Kudus

Sebelumnya, korban sempat mengeluhkan dada sesak saat berada di Pos 4, namun tetap memutuskan melanjutkan pendakian.

Ahmad Alif merupakan warga Desa Sridadi RT 02/06, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 22.00 WIB di samping petilasan Eyang Pandu, Pos 5, turut Desa Rahtawu.

Kapolsek Gebog, AKP Siswanto menyatakan, korban sebelumnya melakukan perjalanan bersama lima orang lainnya.

Mereka yakni yang tergabung dalam Tim Vertical Rescue Indonesia (VRI) Rembang, serta kedua orang yang merupakan pecinta alam.

Rombongan berangkat dari Rembang sekitar pukul 15.00 WIB menggunakan mobil Toyota Avanza bernomor polisi S-1154-GH.

Mereka tiba di kawasan basecamp sekitar pukul 17.30 WIB dan sempat mampir ke warung untuk membeli kopi.

Sekitar pukul 17.50 WIB, keenam orang tersebut mulai melakukan pendakian menuju Puncak 29.

Saat tiba di Pos 4, korban sempat menyampaikan kepada rombongan bahwa dadanya terasa sesak. Meski demikian, korban masih ingin melanjutkan perjalanan.

Dalam perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5, korban juga sempat berhenti untuk buang air besar dan ditunggui salah seorang rekannya. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan,katanya.

Karena kondisi sudah gelap, rombongan kemudian terbagi menjadi dua kelompok.

Tiga orang berjalan lebih dulu, sedangkan korban bersama tiga rekannya berada di belakang dengan jarak sekitar lima meter.

Sesampainya di petilasan Eyang Pandu atau Pos 5, korban sempat duduk bersama rombongan. Sekitar lima menit kemudian, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Namun, ketika berada di samping petilasan, kondisi korban tiba-tiba melemah hingga akhirnya jatuh,katanya.

Melihat kondisi tersebut, salah seorang rekan korban meminta pertolongan kepada seseorang yang kebetulan berada di sekitar petilasan.

Tidak lama kemudian, rekan-rekan korban melihat mulut korban mengeluarkan air liur.

Karena menilai korban membutuhkan pertolongan segera, dua anggota rombongan kemudian diminta turun menuju basecamp untuk meminta bantuan.

Keduanya berlari dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga tiba di basecamp. Mereka kemudian meminta pertolongan kepada warga dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bhabinkamtibmas Desa Rahtawu.

Warga bersama relawan selanjutnya melakukan evakuasi terhadap korban dari Pos 5.

Korban diturunkan menggunakan sepeda motor dan kemudian dibawa ke RSUD dr Loekmonohadi Kudus untuk mendapatkan pemeriksaan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter UPT Puskesmas Gondosari, dr Besar Wahyu Riyadi, bersama Tim Inafis Polres Kudus, tidak ditemukan adanya luka pada tubuh korban. Petugas hanya menemukan lebam mayat,jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, korban disimpulkan meninggal dunia akibat kelelahan dan hipotermia. (gal/him)

Editor : Abdul Rochim
Puncak 29 Gunung Muria hipotermia kudus rembang