Guyur Cekathak Sunan Muria, Warga Colo Kudus Berdoa Minta Hujan

Abdul Rochim • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 19:10 WIB

DOA MINTA HUJAN: Panitia dan pengurus YM2SM mengkirab cekatak Sunan Muria dan peralatan untuk tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat (4/9). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
DOA MINTA HUJAN: Panitia dan pengurus YM2SM mengkirab cekatak Sunan Muria dan peralatan untuk tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat (4/9). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Tradisi Guyang Cekathak kembali digelar warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (4/9).

Ritual membasuh pelana kuda peninggalan Sunan Muria tersebut diikuti ratusan peserta di kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai warga, pedagang, mahasiswa, perangkat desa hingga komunitas ojek.

Tradisi yang digelar setiap Jumat Wage saat musim kemarau itu diawali sekitar pukul 07.00 dengan pembacaan tahlil di aula masjid.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Kudus Disiapkan di Lahan Perhutani Gondoharum Seluas 8 Hektare

Usai doa dan selawat, pelana kuda atau cekathak diarak menuju Sendang Rejoso yang berjarak sekitar 500 meter. Arak-arakan dipimpin juru kunci dengan iringan selawat dan tabuhan terbang papat.

Setibanya di sendang, pelana dibasuh menggunakan air yang dicampur taburan bunga. Prosesi tersebut dilakukan sambil memanjatkan doa dan selawat. Bagi masyarakat, Guyang Cekathak bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap Sunan Muria sekaligus upaya menjaga warisan leluhur.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) Mastur mengatakan, pelaksanaan tahun ini berlangsung lancar. Antusiasme masyarakat juga dinilai meningkat.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat meningkat. Ada pedagang, mahasiswa, perangkat desa, hingga masyarakat umum. Semua ikut larut dalam suasana kebersamaan,” ujarnya.

Menurut Mastur, guyang berarti memandikan, sedangkan cekathak merupakan pelana kuda. Dalam kisah yang dipercaya masyarakat, dahulu Sunan Muria memandikan kudanya di Sendang Rejoso yang juga dipercaya sebagai salah satu tempat beliau berwudu.

“Kudanya memang sudah tidak ada, tapi pelana tetap kita mandikan sebagai simbol penghormatan. Tradisi ini menjadi pesan moral bagi generasi penerus untuk mengenang perjuangan beliau,” jelasnya.

Setelah prosesi, warga makan bersama dengan menu nasi dan lauk daging kambing. Salah satu bagian yang menarik perhatian yakni tabur cendol dawet ke udara oleh juru kunci. Prosesi tersebut menjadi simbol turunnya hujan.

Sebelum tabur dawet, warga memanjatkan doa agar hujan segera turun, sekaligus memohon keberkahan dan kesejahteraan.

Tradisi tersebut erat kaitannya dengan kehidupan warga Colo yang banyak bergantung pada kondisi alam Gunung Muria.

Salah seorang peserta, Miatun, mengaku hampir setiap tahun mengikuti Guyang Cekathak. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi momentum warga untuk bersama-sama berdoa memohon hujan.

“Saya ikut tiap tahun. Ini tradisi warga Desa Colo, tujuannya untuk meminta hujan. Prosesinya juga makan bersama, serta minum cendol. Kemudian ada tabur dawet,” katanya.

“Saya hampir setiap tahun ikut bersama ibu-ibu lainnya. Rasanya adem, apalagi bisa ngalap berkah di tempat ini,” imbuhnya.

Guyang Cekathak digelar setiap Jumat Wage selama musim kemarau mengikuti kalender Jawa. Tradisi tersebut menjadi perpaduan penghormatan terhadap Sunan Muria, doa memohon hujan, serta ungkapan syukur masyarakat. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
Guyang Cekathak tradisi minta hujan Sendang Rejoso desa colo sunan muria