Perjodohan Gegash di Kudus Terkendala Ketimpangan Profesi, Begini Jelasnya

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:51 WIB

 


PELAKSANAAN: Pembukaan program biro jodoh Gegash yang digelar oleh LKKNU Kudus, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
PELAKSANAAN: Pembukaan program biro jodoh Gegash yang digelar oleh LKKNU Kudus, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Menemukan pasangan hidup ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Hal itu menjadi pengalaman yang dihadapi penyelenggara program biro jodoh Gegash (Golek Garwo Sah) yang digelar Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Kudus.

Meski minat peserta cukup tinggi, proses mencocokkan pasangan membutuhkan pendampingan intensif karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesiapan pribadi hingga kondisi sosial ekonomi.

Sekretaris LKKNU Kudus Solikul Huda mengatakan, setiap peserta memiliki latar belakang dan harapan yang berbeda. Karena itu, proses taaruf tidak bisa dilakukan secara instan maupun dipaksakan.

Baca Juga: Begini Kronologi Ibu di Kudus Laporkan Anak ke Polisi hingga sempat Ditahan

Panitia memastikan kedua belah pihak benar-benar memiliki niat dan kesiapan membangun rumah tangga.

"Kalau memang sama-sama memiliki niat baik dan serius, insyaallah ada jalannya. Tetapi prosesnya tetap harus didampingi karena banyak hal yang menjadi pertimbangan," ujarnya.

Menurut Solikul, tantangan terbesar muncul dari komposisi peserta.

Kaum perempuan didominasi kalangan berpendidikan tinggi seperti aparatur sipil negara (ASN), dosen, guru, hingga tenaga profesional. 

Sementara peserta laki-laki lebih banyak berasal dari sektor swasta, guru madrasah, pengasuh pondok pesantren, hingga pekerja informal.

Perbedaan latar belakang pekerjaan dan kemampuan ekonomi tersebut kerap memengaruhi kelanjutan proses taaruf.

Tidak sedikit peserta yang memutuskan mengakhiri komunikasi karena merasa belum menemukan kecocokan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Selain faktor profesi, pengalaman hidup juga menjadi pertimbangan.

Sejumlah peserta yang berstatus duda maupun janda masih menyimpan trauma akibat perceraian atau kehilangan pasangan karena meninggal dunia. 

Kondisi itu membuat mereka lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan.

Meski demikian, program Gegash juga mencatat hasil positif. Beberapa peserta berhasil menemukan pasangan yang dinilai cocok meski berasal dari latar belakang berbeda.

Bahkan, sejumlah pasangan telah menyatakan kesiapan melanjutkan hubungan ke tahap lamaran setelah menjalani proses pendampingan.

Baca Juga: Kuli Bangunan Asal Kudus Ini Raih MUI Award 2026, Karya Tahkik Kitabnya Diakui Dunia

"Sering kali justru pasangan yang awalnya tidak diduga bisa cocok. Setelah melalui proses perkenalan dan pendampingan, mereka mantap melanjutkan ke tahap yang lebih serius," kata Solikul.

Untuk menjaga proses taaruf tetap sesuai aturan, LKKNU Kudus menerapkan sistem pendampingan yang lebih ketat.

Setiap kelompok peserta didampingi dua fasilitator yang menjadi penghubung komunikasi. Peserta juga dilarang saling bertukar nomor telepon maupun mendatangi rumah calon pasangan tanpa seizin pendamping.

Kebijakan tersebut diterapkan setelah panitia menemukan kasus peserta yang mencari alamat calon pasangan melalui daftar hadir, lalu mendatangi rumahnya tanpa sepengetahuan penyelenggara.

Menurut Solikul, tindakan tersebut berpotensi mengganggu kenyamanan peserta sehingga mekanisme pendampingan diperketat.

Dalam waktu dekat, LKKNU Kudus akan melakukan evaluasi bersama seluruh pendamping untuk mengidentifikasi berbagai kendala selama pelaksanaan program.

Hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan Gegash pada gelombang berikutnya yang kini mulai membuka pendaftaran baru.

Selain itu, peserta angkatan pertama akan mendapatkan pembekalan lanjutan berupa literasi keuangan keluarga.

Materi tersebut melengkapi pembinaan sebelumnya yang membahas keluarga sakinah, persiapan pernikahan, dan kesehatan keluarga.

Solikul berharap pembekalan tersebut dapat membekali calon pasangan agar tidak hanya siap menikah, tetapi juga mampu mengelola keuangan rumah tangga sehingga keluarga yang terbentuk menjadi lebih harmonis, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (dik)

Editor : Abdul Rochim
Gegash Kudus LKKNU Kudus biro jodoh taaruf pernikahan