KUDUS – RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat melalui In House Training (IHT) Hospital Disaster Plan (HDP) dan simulasi penanggulangan bencana.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus menyempurnakan sistem penanganan bencana agar pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal saat terjadi keadaan darurat.
Pelatihan yang diikuti pegawai lintas profesi dan lintas unit ini digelar berdasarkan hasil evaluasi internal yang menunjukkan masih perlunya peningkatan pemahaman terkait asesmen mitigasi bencana.
Baca Juga: Kuli Bangunan Asal Kudus Ini Raih MUI Award 2026, Karya Tahkik Kitabnya Diakui Dunia
Lalu, penyusunan perencanaan penanggulangan bencana, implementasi manajemen bencana, hingga identifikasi dan analisis risiko secara konsisten di seluruh unit pelayanan.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit (RPBRS) atau Hospital Disaster Plan yang mengacu pada Pedoman Safe Hospital 2024.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Mustiko Wibowo, mengatakan rumah sakit sebagai fasilitas rujukan harus memiliki sistem kesiapsiagaan yang mampu menjamin keberlangsungan pelayanan dalam berbagai situasi.
"Kesiapsiagaan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu unit, tetapi seluruh elemen rumah sakit. Karena itu, kami terus memperkuat kompetensi SDM agar setiap petugas memahami tugas, fungsi, dan mekanisme koordinasi ketika menghadapi situasi kedaruratan maupun bencana," ujarnya.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur, mulai jajaran struktural, kepala instalasi, kepala dan wakil kepala ruang, tenaga medis dan keperawatan, petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD), farmasi, laboratorium, radiologi, rehabilitasi medik, rekam medis, humas, hingga petugas keamanan dan cleaning service.
Selama dua hari, peserta menerima materi mengenai kebijakan nasional penanggulangan bencana, standar akreditasi manajemen bencana rumah sakit, Hazard Vulnerability Analysis (HVA), sistem komando insiden rumah sakit, manajemen korban bencana, triase, penyusunan Hospital Disaster Plan, hingga simulasi kebakaran dan penanganan korban.
Pada hari kedua, digelar simulasi terpadu yang meliputi aktivasi sistem komando, koordinasi lintas unit, penanganan korban di IGD, penyediaan logistik medis dan nonmedis, hingga evaluasi waktu respons.
Simulasi ini menjadi sarana menguji kesiapan personel sekaligus menyempurnakan mekanisme koordinasi saat menghadapi kondisi darurat.
Menurut dr. Mustiko, peningkatan kompetensi pegawai harus didukung kesiapan sistem serta sarana dan prasarana yang memadai. Pihaknya juga terus memastikan seluruh fasilitas dan peralatan penanggulangan bencana berada dalam kondisi siap operasional.
"Dengan SDM yang kompeten, sistem yang terintegrasi, serta sarana yang memadai, kami berharap pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berlangsung secara cepat, aman, dan berkualitas meskipun rumah sakit menghadapi situasi kedaruratan," pungkasnya. (san)