KUDUS – Proyek revitalisasi Pasar Kliwon Kudus kembali mengalami keterlambatan.
Setelah sebelumnya ditargetkan dimulai pada Juni 2026, pelaksanaan pekerjaan kini dijadwalkan bergeser ke akhir Juli karena masih menyelesaikan tahapan pengadaan.
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Agus Sumarsono, mengatakan anggaran revitalisasi tidak mengalami perubahan.
Yakni sebesar Rp 225 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus.
Baca Juga: Cegah Insiden 'Kopi Pangku', Polsek Kudus Terapkan Sanksi Tegas Bagi Street Coffee
"Ya, molor karena proses dokumen pengadaan. Saat ini dokumennya sudah siap. Awal Juli diproses pengadaannya, kemungkinan akhir Juli sudah mulai pelaksanaan. Anggarannya tetap Rp225 juta dari APBD," ujarnya.
Menurut Agus, dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki sejumlah fasilitas yang menjadi prioritas di Pasar Kliwon.
Di antaranya perbaikan atap, pipa hidran, pintu pasar, hingga gorong-gorong saluran pembuangan.
Sebelumnya, Dinas Perdagangan juga menyampaikan revitalisasi akan difokuskan pada pembenahan fasilitas dasar, seperti pintu, atap bangunan, dan area parkir guna meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung saat bertransaksi.
Pengerjaan revitalisasi diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga bulan.
Penjadwalan tersebut juga mempertimbangkan kondisi cuaca agar proses pembangunan tidak terganggu musim hujan.
Agus menegaskan, Pasar Kliwon menjadi satu-satunya pasar tradisional di Kabupaten Kudus yang mendapat program revitalisasi pada 2026.
Sementara itu, pasar tradisional lainnya hanya memperoleh penanganan berupa perbaikan ringan sesuai tingkat kerusakan dan ketersediaan anggaran.
"Revitalisasi hanya Pasar Kliwon. Kalau pasar lain paling perbaikan ringan, misalnya talang atau fasilitas yang rusak," katanya.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Picu Kepadatan di Lingkar Timur Kudus, Antrean Kendaraan Mengular di Simpang Ngembal
Ia menambahkan, salah satu keluhan yang paling sering muncul di Pasar Kliwon adalah kebocoran talang saat musim hujan.
Kerusakan yang masih bersifat ringan akan ditangani melalui kegiatan pemeliharaan rutin.
Sedangkan kerusakan yang membutuhkan anggaran lebih besar akan diusulkan menjadi prioritas pada penyusunan anggaran tahun berikutnya.
"Kalau ada kerusakan yang bisa langsung ditangani ya segera ditangani. Kalau belum memungkinkan, akan diusulkan menjadi prioritas pada tahun berikutnya," jelas Agus.
Selain Pasar Kliwon, sejumlah pasar tradisional lain yang masih membutuhkan pembenahan di antaranya Pasar Wage Undaan Kidul, Pasar Ngablak Tanjungrejo, Pasar Kalirejo, dan Pasar Mijen.
Namun pada tahun ini, pasar-pasar tersebut baru akan mendapatkan perbaikan ringan sesuai kebutuhan di lapangan. (*/him)