Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

MASYA ALLAH! SD Negeri di Kudus Ini Sepi Peminat, Gurunya Sampai-Sampai Harus Lakukan Ini

Abdul Rochim • Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:36 WIB

SEPI: Kepala SD Glantengan Kudus Ade Irma Widhi Astuti berada di depan ruang guru. Menanti pendaftaran siswa baru. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
SEPI: Kepala SD Glantengan Kudus Ade Irma Widhi Astuti berada di depan ruang guru. Menanti pendaftaran siswa baru. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS – Sekolah dasar negeri yang kekurangan murid baru terus berupaya mencari cara agar kuota peserta didik terpenuhi. 

Mulai dari memberikan seragam gratis hingga bantuan uang tunai, namun hasilnya masih belum mampu mendongkrak jumlah pendaftar secara signifikan.

Pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Kudus, sejumlah SD negeri masih mengalami kekurangan siswa meski masa pendaftaran telah berakhir.

Pendaftaran tingkat SD berlangsung pada 8 hingga 11 Juni 2026, sementara pengumuman hasil seleksi dilakukan pada 12 Juni 2026.

Baca Juga: SD Negeri di Kudus Ini Gampang Dapat Murid Baru, Ternyata Begini Kiatnya

Salah satu sekolah yang masih kekurangan murid adalah SD Glantengan. Hingga pekan lalu, sekolah tersebut baru memperoleh enam calon siswa baru.

Kepala SD Glantengan, Ade Irma Widhi Astuti, mengatakan pihaknya masih membuka pendaftaran meski jadwal resmi SPMB telah berakhir.

“Kami tidak membatasi sampai kapan. Karena sekolah kami masih membutuhkan calon murid baru. Tahun lalu kami mendapat lima murid baru dan satu siswa pindahan. Mudah-mudahan tahun ini jumlahnya lebih banyak,” ujarnya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menarik minat masyarakat. Bahkan sejak beberapa bulan sebelum pendaftaran dibuka, pihak sekolah melibatkan orang tua siswa dan pedagang kaki lima di sekitar sekolah untuk membantu mencari calon peserta didik baru.

Selain itu, sekolah memberikan perlengkapan seragam dan kaos olahraga secara gratis.

Tak hanya itu, calon wali murid yang mendaftarkan anaknya juga mendapat bantuan sebesar Rp 500 ribu sebagai pengganti biaya pembelian seragam sekolah.

Ade menjelaskan, bantuan tersebut berasal dari iuran rutin para guru yang dikumpulkan khusus untuk mendukung pelaksanaan SPMB.

 Namun langkah tersebut belum mampu menarik minat masyarakat secara maksimal.

Menurutnya, SD Glantengan pernah menjadi sekolah yang cukup diminati karena banyak dihuni atlet bulu tangkis muda. Prestasi sekolah pun ikut terdongkrak berkat keberadaan para atlet tersebut.

“Dulu SD Glantengan cukup moncer karena banyak atlet yang sekolah di sini. Setelah mereka dipindahkan ke sekolah lain, jumlah siswa menurun cukup tajam,” katanya.

Saat ini total siswa di SD Glantengan hanya sekitar 40 anak dari seluruh jenjang kelas.

Sementara itu, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus telah menyiapkan langkah regrouping atau penggabungan sekolah bagi SD negeri yang terus mengalami kekurangan siswa.

Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widada, mengatakan beberapa sekolah bahkan sudah menjalani proses regrouping sebagai solusi jangka panjang.

Menurutnya, penggabungan sekolah diperlukan untuk mengefisienkan penggunaan anggaran sekaligus meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.

“Fenomena SD negeri minim siswa memang tidak bisa dipungkiri. Orang tua sekarang semakin selektif dalam memilih sekolah. Sementara jika harus bersaing dari sisi fasilitas, anggaran sekolah negeri juga terbatas,” ujarnya.

Harjuna menilai regrouping menjadi salah satu opsi paling realistis untuk menjaga kualitas layanan pendidikan di tengah menurunnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar negeri. (ar)

 
 
Editor : Abdul Rochim
#SD Glantengan #SPMB Kudus #regrouping sekolah #Ade Irma Widhi Astuti #Harjuna Widada