Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Libur Sekolah, Program MBG di Kudus Dihentikan Sementara hingga Juli

Abdul Rochim • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:30 WIB

IKUT JADWAL SEKOLAH: Pekerja di SPPG Rendeng, Kota, Kudus, proses packing menu MBG baru-baru ini. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
IKUT JADWAL SEKOLAH: Pekerja di SPPG Rendeng, Kota, Kudus, proses packing menu MBG baru-baru ini. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara waktu dihentikan selama masa libur sekolah. 

Kebijakan tersebut diterapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bagian dari penyesuaian operasional program di seluruh Indonesia.

Penghentian sementara itu mengacu pada Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Periode Hari Libur dalam Rangka Penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026.

Dalam aturan tersebut, operasional dapur MBG dihentikan mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026, bertepatan dengan masa libur sekolah.

Baca Juga: WARUNG SEDEKAH DI KUDUS : Konsisten Berbagi Nasi Bungkus selama 11 Tahun

Langkah ini dilakukan untuk mendukung evaluasi tata kelola, efisiensi operasional, serta penyelarasan standar pelaksanaan program di berbagai daerah.

Koordinator Paguyuban Mitra SPPG, Wahyu Widodo, mengatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan proses pembenahan dan audit yang sedang dilakukan oleh BGN terhadap pelaksanaan program MBG.

Selama masa penghentian, dapur-dapur MBG diharapkan melakukan perbaikan sarana maupun kelengkapan operasional sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, sejumlah mitra pelaksana merasa keberatan karena penghentian kegiatan berdampak pada aspek ekonomi dan investasi yang telah dikeluarkan.

Meski tidak beroperasi, berbagai biaya rutin tetap harus ditanggung oleh pengelola.

Biaya tersebut meliputi kebutuhan listrik, air, perawatan peralatan dapur, kendaraan operasional, instalasi pengolahan air limbah, hingga pengamanan fasilitas.

Selain itu, selama masa penghentian, dapur yang tidak beroperasi juga tidak memperoleh insentif operasional.

Meski demikian, pihaknya menegaskan para mitra tetap menghormati keputusan pemerintah dan siap mengikuti seluruh kebijakan yang ditetapkan.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya perbaikan tata kelola program agar berjalan lebih baik ke depan.

Selama periode libur sekolah, seluruh distribusi makanan dalam program MBG dihentikan.

Pengelola dapur diminta memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbaiki fasilitas serta melengkapi kebutuhan operasional sesuai petunjuk teknis yang ditetapkan.

Dampak penghentian sementara program ini juga dirasakan para pemasok bahan baku. Salah satunya pemasok sayuran hidroponik yang selama ini rutin memasok kebutuhan dapur MBG.

Agus Sulistiyanto, pemasok selada untuk sejumlah dapur MBG, mengaku harus mencari pasar alternatif setelah permintaan dari program tersebut terhenti.

Ia kini berupaya menjalin kerja sama dengan restoran maupun rumah makan agar hasil panennya tetap terserap.

Menurut Agus, produk sayuran hidroponik memiliki masa simpan yang terbatas sehingga harus segera dipasarkan. Karena itu, penghentian operasional dapur MBG membuat para petani dan pemasok harus bergerak cepat mencari pembeli baru guna menghindari kerugian.

Para pelaku usaha berharap program MBG dapat kembali berjalan sesuai jadwal setelah masa libur sekolah berakhir sehingga rantai pasok yang selama ini terbentuk dapat kembali beroperasi normal. (san)

Editor : Abdul Rochim
#sekolah libur #Mbg #kudus #SPPG