RADAR PATI - Malam 1 Muharram atau 1 Suro dijadikan ritual khusus oleh beberapa orang. Di antaranya, dijalankan di sejumlah petilasan di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus.
Sejumlah warga memadati pertapaan agung Eyang Sakri di Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, sejak kemarin siang. Mereka yang datang, baik dari Kudus maupun luar kota.
Menuju aula pertapaan, aroma dupa dan kembang setaman langsung menusuk hidung. Sejumlah warga ada yang terlihat beristirahat.
Ada juga yang menyantap ingkung usai menjalani ritual berdoa di area petilasan.
Baca Juga: CATUT ANGGOTA DPRD KUDUS: Spanduk Berisi Kritik di JPO Soroti Kinerja Pemerintah
Berjalan menuju ke tempat pertapaan, aroma asap kemenyan kian kuat. Ada dupa yang masih menyala dan taburan bunga di atas lantai petilasan Eyang Sakri.
Warga sebelum menjalani ritual, memang terlebih dulu membakar menyan di petilasan. Mereka berdoa memanjatkan hajat dengan duduk bersila di sisi kanan atau kiri petilasan.
Menurut Juru Kunci Petilasan Eyang Sakri Agus Supriyadi, antusiasme warga yang menjalani ritual 1 Suro tahun ini, meningkat.
Ditandai dengan banyaknya warga yang tiba sejak siang hari. “Biasanya warga yang datang itu menjelang sore hari. Ini (kemarin siang, Red) sudah mulai ramai. Ada juga yang dari kemarin (Minggu, Red),” katanya.
Agus menuturkan, warga yang datang ini, bertujuan agar hajat mereka terkabul dengan menjalani ritual. Hajat secara umum, berupa diberikan kelancaran rejeki, umur panjang, kesehatan, dan keselamatan.
Ritual tak hanya di petilasan Eyang Sakri. Warga yang datang akan menjalani ritual mandi di sendang maupun sungai di Desa Rahtawu.
“Ritual yang dijalani sesuai kepercayaan masing-masing. Yang Islam biasanya Yasinan dan tahlilan. Yang kejawen membaca pujo mantra,” katanya.
Salah satu warga, Sugiman (59) asal Demak mengaku, sudah secara rutin datang ke Desa Rahtawu setiap peringatan 1 Suro.
Dia menginap selama empat hari dan menjalankan ritual di sana. Ritual pertamanya, dijalankan dengan berdoa di petilasan Eyang Sakri saat sore hari.
Selanjutnya, dia akan mandi di sendang timur petilasan tepat malam 1 Suro. “Setelah itu, akan naik ke Puncak Abiyoso. Berdoa di petilasan Eyang Abiyoso. Tujuan akhir di Puncak 29,” katanya.
Dia mengaku, ritual ini dilakukan agar hajatnya di tahun baru ini bisa terkabul. Salah satu hajatnya, agar diberikan keselamatan, panjang umur, dan kelimpahan rezeki.
Pengunjung lain, Yasin menyatakan, setiap tahun dia tak pernah absen menjalanlankan ritual 1 Suro di Desa Rahtawu. Dia akan bermalam hingga Sabtu mendatang.
“Saya akan menjalani puasa di sini (Rahtawu, Red). Dulu saya sering menjalani ritual di atas puncak. Karena faktor kesehatan, kini saya menjalani ritual di Petilasan Eyang Sakri saja,” kata warga Kudus itu.
Pada tahun baru ini, dia berharap diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, keselamatan, dan panjang umur. (gal)