KUDUS – Ratusan mahasiswa, pelajar, warga, hingga unsur Forkopimda turun langsung membersihkan Sungai Gelis dalam kegiatan Resik-Resik Kali Gelis yang digelar Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (5/6).
Aksi yang diikuti lebih dari 350 peserta itu tidak hanya berfokus pada pengangkatan sampah, tetapi juga memjadi upaya membangun kesadaran lingkungan sekaligus mitigasi banjir di Kota Kudus.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.00 hingga 10.30 WIB tersebut dipusatkan di kawasan Jembatan Banyumanis.
Selain aksi bersih-bersih, satu alat berat diterjunkan untuk melakukan pengerukan sedimentasi sungai.
Baca Juga: Satgas Usulkan Standarisasi Menu MBG di Kudus, Tinggal Tunggu Persetujuan BGN
Pengerukan akan berlangsung selama sepekan bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan instansi terkaiit.
Ketua BEM UMK Nurrohmah Tanaya mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus rangkaian Dies Natalis ke-46 UMK.
Menurutnya, aksi bersih sungai telah menjadi tradisi kampus yang terus dijaga setiap tahun.
“Kami menginisiasi kegiatan ini bersama seluruh civitas akademika UMK, masyarakat Desa Demaan, Demangan, Sunggingan, serta Forkopimda. Lingkungan menjadi tanggung jawab bersama, sehingga kami ingin mengajak masyarakat semakin sadar bahwa kondisi lingkungan akan berdampak langsung pada kehidupan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan lokasi di Kali Gelis bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil observasi dan komunikasi dengan masyarakat, tiitik tersebut dinilai membutuhkan penanganan segera karena tingginya sedimentasi dan banyaknya sampah yang menumpuk di aliran sungai.
Menurut Tanaya, Kali Gelis merupakan salah satu urat nadi Kabupaten Kudus. Karena itu, upaya pemulihan sungai dinilai penting untuk mengoptimalkan kembali aliran air serta menguragi potensi banjir saat musim hujan.
“Kami melihat sedimentasi di lokasi ini sangat tinggi. Nantinya selama satu pekan akan dilakukan pengerukan agar aliran Sungai Gelis kembali optimal. Harapannya ini menjadi bagian dari mitigasi bencana banjir seperti yang sempat terjadi pada awal tahun lalu,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan pelajar SMA dalam kegiatan tersebut sengaja dilakukan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia muda.
Dengan demikian, gerakan menjaga sungai tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi budaya yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Rektor UMK Prof. Darsono menilai aksi gotong royong tersebut merupakan respons nyata terhadap kondisi sungai di Kudus yang saat ini memerlukan perhatian serius. Tumpukan sampah dan sedimentasi dinilai menjadi persoalan yang harus ditangani bersama.
“Sungai butuh uluran tangan kita untuk perbaikan. Gotong royong memperbaiki sungai di sekitar kita agar setiap tahun ancaman bencana banjir itu Insya Allah bisa semakin kita hindarkan,” tegasnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sungai terus meningkat. Serta dapat berkelanjutan.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkat, tetapi juga dari pulihnya fungsi Sungai Gelis sehingga aliran air tetap lancar dan tidak meluap ke permukiman warga saat curah hujan tinggi. (dik)