KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus mendorong seluruh pondok pesantren memperkuat pola pengasuhan yang humanis guna mencegah terjadinya kekerasan seksual, perundungan, maupun bentuk kekerasan lainnya di lingkungan pendidikan keagamaan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para santri.
Komitmen itu disampaikan dalam kegiatan Silaturrahmi Pondok Pesantren yang digelar bersama Himpunan Pesantren dan Madrasah Diniyyah (Hipma) Kudus di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (3/6).
Acara bertema Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual dan Bullying tersebut dihadiri unsur Forkopimda, para masyayikh, pengasuh pondok pesantren, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Baca Juga: DANA NYANTOL DI PUSAT, Pembangunan Pasar Anyar Kudus Tersendat
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan mampu bersaing. Karena itu, seluruh unsur pesantren perlu memiliki komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan ramah bagi para santri.
Menurutnya, Pemkab Kudus telah menunjukkan dukungan terhadap pengembangan pesantren melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 1 Tahun 2024 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren.
Regulasi tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat perlindungan terhadap santri.
Sam’ani menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara pengasuh, santri, dan orang tua.
Selain itu, pengawasan serta pendampingan terhadap santri perlu terus diperkuat agar potensi kekerasan dapat dicegah sejak dini.
Pemerintah Kabupaten Kudus bersama Kementerian Agama, lanjutnya, akan terus memberikan pendampingan kepada pondok pesantren guna menjaga kualitas pengasuhan dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Sementara itu, Wakil Ketua Hipma Kudus, Gus Muhammad Nahid, mengingatkan bahwa para santri merupakan amanah yang harus dijaga dan dibimbing dengan penuh tanggung jawab.
Ia mengajak seluruh pondok pesantren di Kudus untuk bersama-sama membangun lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan penuh keteladanan.
Nahid juga mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan pesantren dan upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan keagamaan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan pesantren menjadi modal penting dalam mewujudkan Kudus yang bebas dari kekerasan seksual, kekerasan verbal, maupun praktik perundungan.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah dan para pengelola pesantren menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan lingkungan pesantren yang aman dan ramah, sekaligus mendukung lahirnya generasi berakhlakul karimah yang bermanfaat bagi masyarakat. (dik)