KUDUS – Perjalanan menunaikan ibadah haji bagi setiap orang selalu menyimpan kisah perjuangan tersendiri.
Hal itu juga dirasakan Murah (74), warga Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, yang akhirnya berangkat ke Tanah Suci setelah menabung bertahun-tahun dari hasil jualan sayur dan beternak sapi.
Mbah Murah, begitu ia akrab disapa, mendaftar haji sejak tahun 2011.
Saat itu, ia harus membayar uang pendaftaran sekitar Rp 25 juta. Kemudian, untuk pelunasan biaya haji, ia kembali menyiapkan dana sekitar Rp 23 juta.
Baca Juga: KRONOLOGI Rombongan Pengantar Jemaah Haji di Grobogan Tertabrak KA Argo Bromo Anggrek
Tidak mudah bagi lansia tersebut mengumpulkan biaya sebesar itu. Sejak muda, ia bekerja sebagai penjual sayur keliling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari keuntungan kecil hasil belanja dan jualan sayur, ia menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Sebagian keuntungan itu dimasukkan ke arisan sebagai cara menabung.
“Dulu hasil belanja dan jualan sedikit-sedikit saya kumpulkan, ikut arisan juga,” ujarnya.
Ketika mendapatkan uang arisan, dana tersebut tidak langsung dihabiskan. Ia memilih membeli sapi sebagai bentuk investasi jangka panjang.
Sapi itu kemudian dipelihara, dijual kembali, lalu hasilnya dibelikan dua sapi kecil. Cara itu terus dilakukan hingga berkembang dan menjadi sumber utama biaya hajinya.
“Kemudian sapi dijual lagi, dibelikan dua sapi kecil, dikembangkan terus. Untungnya buat biaya haji,” tuturnya.
Beruntung, anak Mbah Murah juga menekuni usaha ternak sapi sehingga ikut membantu merawat hewan ternak tersebut.
Kini, Mbah Murah sudah tidak lagi berjualan sayur sekitar satu hingga dua tahun terakhir karena kondisi fisiknya yang semakin menurun.
Baca Juga: SUBHANALLAH! Sosok Buruh Pasar Kliwon Kudus Ini Menabung selama 13 Tahun untuk Beribadah Haji
Ia sempat terjatuh hingga membuat kondisi jalannya menjadi bungkuk.
Meski demikian, semangatnya untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak pernah surut.
Ia tetap berangkat haji seorang diri tanpa didampingi keluarga, karena sang suami telah lebih dulu meninggal dunia.
Selain biaya keberangkatan, Mbah Murah juga harus menyiapkan dana tambahan untuk kebutuhan selama di Tanah Suci, termasuk jika membutuhkan jasa pendorong kursi roda.
Jelang puncak ibadah haji, tarif jasa pendorong kursi roda di Makkah diketahui berpotensi naik signifikan.
Jamaah lansia seperti Mbah Murah diimbau menyiapkan dana ekstra karena tarif bisa mencapai 500 hingga 600 riyal atau sekitar Rp 2,5 juta.
Kepala Seksi PKP2JH, Lansia dan Disabilitas Daker Makkah PPIH Arab Saudi 2026, Mayor CKM dr Ridwan Siswanto menjelaskan, kenaikan tarif terjadi karena semakin padatnya jamaah dari seluruh dunia yang memadati Masjidil Haram.
“Semakin dekat hajian sampai 500-600 Riyal, dan mereka itu kadang-kadang tidak mau lagi ditawar,” jelasnya.
Meski harus menghadapi berbagai tantangan, Mbah Murah tetap bersyukur bisa berangkat haji di usia senjanya. Perjuangannya menjadi bukti bahwa niat kuat, kesabaran, dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang mewujudkan impian ke Tanah Suci. (him)