KUDUS - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mulai bersiap menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi mulai April 2026 dan mencapai puncak pada Agustus hingga Oktober mendatang.
Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayah, menyampaikan bahwa prediksi tersebut berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dampak perbedaan cuaca sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Eko Djumartono Resmi Dilantik Jadi Sekda Kudus, Ini Harapan Bupati Samani
”Sesuai dengan prediksi BMKG el Nino akam datang bulan ini. Perbedaam cuaca sudah kentara, semisal di daerah A turun hujan, sedangkan di daerah lainnya panas cukup terik," katanya.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kudus meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk desa tangguh bencana (Destana).
Komunikasi antarwilayah juga diintensifkan agar respons penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat.
”Kami akan meningkatan komunikasi agar koordinasi lebih cepat antar wilayah," ungkapnya.
Selain itu, BPBD juga menyiapkan peralatan penanganan bencana serta melakukan pemantauan wilayah yang dinilai rawan terdampak kekeringan akibat El Nino.
”Kami menyiapkan alat-alat penanganan bencana dan memonitoring wilayah-wilayah," ungkapnya.
Menurut Syarif, berdasarkan prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peluang terjadinya El Nino tahun ini mencapai 60 persen.
BPBD telah menyiapkan langkah antisipasi seperti kesiapan distribusi air bersih serta imbauan kepada masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan.
Ia menegaskan, pembakaran sampah dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan, hutan, maupun permukiman warga, terutama saat musim kemarau.
”Kami mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, seperti kebakaram lahan tebu saat kemarau akan membuat dampak buruk pada lingkungan,” jelasnya.
BPBD berharap kesiapsiagaan masyarakat dapat membantu meminimalkan dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Editor : Abdul Rochim