KUDUS – Isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis non-subsidi, mulai berdampak pada perilaku masyarakat.
Warga berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga memicu antrean panjang yang didominasi kendaraan roda dua.
Kondisi ini terlihat di SPBU Rendeng, Kecamatan Kota. Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean mulai terlihat sejak pukul 10.00, terutama di jalur pengisian Pertalite dan Pertamax untuk kendaraan roda dua.
Baca Juga: Wabup Bellinda Tekankan Pembaruan Data Akurat untuk Optimalkan Program MBG di Kudus
Pada pukul 12.00 antrean sempat berkurang, namun kembali memanjang sekitar pukul 15.00.
Sementara itu, antrean di jalur Pertamax untuk mobil relatif lebih landai, hanya terdapat beberapa kendaraan dengan antrean yang tidak terlalu panjang.
Salah satu pengguna kendaraan roda dua, Siti Islamiyah, mengaku ikut antre meski bahan bakar di motornya masih tersisa. Ia menyebut isu kenaikan harga Pertamax menjadi salah satu kekhawatirannya.
”Kendaraan saya bahan bakarnya Pertamax, kalau di isi Pertalite tidak cocok. Jadi, misalkan jadi naik ya saya tetap pakai Pertamax menyesuaikan kondisi motor. Saya ikut ngantre ini karena takut kalau tiba-tiba Pertamax habis, setidaknya isi BBM motor saya penuh,” ungkapnya.
Meski antrean cukup panjang, kondisi di SPBU Rendeng masih terpantau kondusif.
Pemilik SPBU, Mochammad, yang turut memantau situasi menyebut fenomena ini kerap terjadi menjelang awal April.
”Saya sampai pukul 15.00 belum ada informasi ada kenaikan BBM. Dan, antrean yang terjadi ini masih tergolong kondusif. Kami stok BBM aman, apabila ramai pembelian kenaikan maksimal lima persen,” ungkapnya.
Dampak isu kenaikan BBM juga dirasakan di SPBU lain. Di SPBU Damaran, Kecamatan Kota, sejak pukul 08.00 BBM dilaporkan telah habis berdasarkan informasi dari warga sekitar.
Salah satu petugas yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa saat pergantian shift, stok BBM sudah kosong. Di lokasi juga terlihat papan