KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat sekitar 500 bayi setiap tahun lahir dengan masalah gizi, mulai dari stunting, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), hingga kondisi prematur.
Data tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kudus dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, menyebut hingga Januari 2026 terdapat 1.959 bayi dan balita yang terdeteksi mengalami stunting di wilayah Kota Kretek.
Baca Juga: Bupati Samani Berangkatkan Enam Bus Balik Rantau Gratis ke Jakarta untuk Warga Kudus
Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang ditandai tinggi badan anak di bawah standar usianya.
Pemkab Kudus terus berupaya menekan angka stunting melalui langkah pencegahan sejak sebelum kehamilan hingga bayi lahir.
Edukasi rutin dilakukan kepada calon ibu agar memperhatikan kesehatan dan asupan gizi selama masa kehamilan.
Sosialisasi dan pendampingan juga diperkuat melalui layanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas, klinik, hingga rumah sakit.
Baca Juga: Pascalebaran, Transaksi Emas di Kudus Naik Drastis
Selain itu, tenaga kesehatan mendapatkan pembekalan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini dan penanganan stunting secara optimal.
DKK Kudus turut memberikan intervensi gizi berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal, Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK), serta Pangan Olahan Diet Khusus (PDK).
Upaya tersebut diharapkan mampu menurunkan angka stunting secara bertahap.
Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 10 persen pada 2026, melanjutkan tren penurunan dari 13,2 persen pada 2024 berdasarkan data SSGI.
Sementara itu, hasil pemantauan melalui E-PPGBM menunjukkan angka stunting sempat meningkat dari 3,7 persen pada akhir 2025 menjadi 3,8 persen di awal Januari 2026.
Melalui kolaborasi lintas sektor serta peran aktif keluarga dalam pola asuh dan pemenuhan gizi seimbang.
Diharapkan jumlah kasus stunting di Kudus dapat terus ditekan dan kualitas kesehatan anak semakin meningkat.
Editor : Abdul Rochim