Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Hari Raya Imlek Dongkrak Produksi Kue Keranjang di Kudus

Abdul Rochim • Selasa, 17 Februari 2026 | 12:08 WIB
PACKING: Penerus usaha menata kue keranjang ke dalam wadah dan siap dipasarkan, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)
PACKING: Penerus usaha menata kue keranjang ke dalam wadah dan siap dipasarkan, belum lama ini. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa (17/2), aktivitas di dapur sederhana milik sebuah toko roti di Kecamatan Kota Kudus kian padat.

Permintaan kue keranjang meningkat signifikan, membuat tiga pekerja harus bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.

Dalam sehari, produksi kue keranjang mampu mencapai 200 kilogram.

Lonjakan pesanan sudah terasa sejak satu bulan sebelum Imlek dan biasanya berlanjut hingga dua pekan setelah perayaan, mendekati Cap Go Meh.

Bagi usaha keluarga yang telah memasuki generasi keempat ini, periode Imlek menjadi masa paling sibuk sepanjang tahun.

Melani Dwi Hastiningsih, penerus usaha, menuturkan bahwa produksi kue keranjang memang hanya dilakukan setahun sekali, khusus menyambut Imlek.

“Setiap hari kami bisa memproduksi sekitar 200 kilogram. Biasanya pesanan sudah naik sejak sebulan sebelum Imlek,” ujarnya.

Meski permintaan meningkat tajam, jumlah tenaga kerja tetap tiga orang.

Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari mencampur adonan, mengukus selama kurang lebih enam jam, hingga tahap pengemasan.

“Kami bertiga saja yang produksi. Mengaduk, mengukus, sampai packing juga kami kerjakan sendiri,” katanya.

Bahan yang digunakan relatif sederhana, yakni tepung beras, gula, dan air.

Dalam satu kali produksi, sekitar 10 kilogram tepung beras diolah hingga menjadi adonan kental, kemudian dicetak dan dikukus dalam waktu lama hingga menghasilkan tekstur kenyal dan lembut menyerupai jenang.

Selain varian original berwarna cokelat muda, tersedia pula rasa pandan, vanila, dan cokelat.

Meski melakukan inovasi rasa, resep dasar tetap dipertahankan sesuai warisan keluarga.

“Kami tetap pakai resep dari nenek. Itu yang bikin rasanya tidak berubah sampai sekarang,” tegas Melani.

Kue keranjang bukan sekadar sajian musiman. Bentuknya yang bulat tanpa sudut melambangkan keutuhan dan keharmonisan.

Teksturnya yang lengket juga dimaknai sebagai simbol eratnya persaudaraan serta rezeki yang terus melekat.

Produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Kudus, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah seperti Pati, Juwana, Tayu, Semarang, Kutoarjo, Bandung, hingga Jakarta.

Pemesanan pun kini dilakukan secara daring, memperluas jangkauan pasar di era digital.

Bagi keluarga penerus usaha, perayaan Imlek bukan semata-mata soal peningkatan omzet.

Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan untuk menjaga tradisi, merawat resep turun-temurun, dan mempertahankan cita rasa yang telah dipercaya pelanggan lintas generasi. (dik)

Editor : Abdul Rochim
#kue keranjang #kudus #kelenteng hok hien bio kudus #imlek