Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

FAKTA Di Balik Keracunan MBG SMA 2 Kudus, Adakah Tekanan Ganti SPPG?

Abdul Rochim • Minggu, 1 Februari 2026 | 20:32 WIB
KERACUNAN: Menu MBG SMAN 2 Kudus yang disuplai SPPG Purwosari.
KERACUNAN: Menu MBG SMAN 2 Kudus yang disuplai SPPG Purwosari.

KUDUS - Insiden gangguan kesehatan massal yang dialami ratusan warga SMA Negeri 2 Kudus seusai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (29/1/2026) membuka fakta baru di luar persoalan kualitas makanan semata.

Peristiwa tersebut justru menyorot dinamika pergantian penyedia layanan MBG yang terjadi menjelang akhir tahun lalu.

Sedikitnya sekitar 600 orang, terdiri atas siswa dan tenaga pendidik, mengeluhkan gejala serupa seperti mual, muntah, hingga diare.

Makanan tersebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari, unit dapur yang diketahui belum lama beroperasi saat mulai menyuplai MBG ke sekolah tersebut.

Padahal, sebelumnya SMA 2 Kudus telah bertahun-tahun bekerja sama dengan SPPG yang dikelola Yayasan Srikandi Glantengan.

Selama kemitraan itu berlangsung, pihak sekolah mengklaim tidak pernah menghadapi masalah berarti, baik dari sisi rasa, kebersihan, maupun distribusi makanan.

“Tidak pernah ada komplain. Selama ini aman dan diterima siswa,” ungkap salah satu staf sekolah, Jumat (30/1/2026).

Situasi berubah pada Desember 2025. Sekolah disebut-sebut diarahkan untuk mengakhiri kerja sama lama dan beralih ke SPPG Purwosari.

Dapur gizi SPPG tersebut berada di area pabrik pengolahan kapas milik PTPN IX.

Sumber internal sekolah mengungkapkan, saat masa libur usai ujian semester, sejumlah pihak mendatangi sekolah untuk menyampaikan permintaan pergantian mitra.

Dalam pertemuan itu, kepala sekolah dan guru disebut menerima tekanan agar segera memutus kontrak dengan penyedia sebelumnya.

“Bahasanya sangat tegas. Bahkan ada kalimat yang mengarah ke ancaman mutasi,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Demi menjaga kondusivitas, sekolah akhirnya mengikuti arahan tersebut.

Kerja sama dengan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan resmi dihentikan pada 8 Desember 2025, dan distribusi MBG kemudian dialihkan ke SPPG Purwosari.

Tak lama berselang, kasus keracunan pun mencuat. Menu yang dikonsumsi saat kejadian berupa soto ayam suwir, tempe, dan tauge.

Merespons kejadian itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris langsung menghentikan sementara penyaluran MBG di SMA 2 Kudus mulai Jumat (30/1/2026).

Pemerintah daerah juga menyiapkan evaluasi total terhadap seluruh SPPG, mencakup aspek higienitas, manajemen dapur, hingga pola distribusi makanan.

“Kami akan kumpulkan seluruh pengelola SPPG untuk pembinaan agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegas Sam’ani.

Pemkab Kudus memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis tanpa biaya.

Pemeriksaan dan perawatan di tujuh rumah sakit ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Bagi siswa yang belum terdaftar, kepesertaan BPJS akan segera diaktifkan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Mustiko Wibowo, menyebutkan 34 siswa harus menjalani perawatan inap.

Sementara ratusan lainnya cukup menjalani rawat jalan atau pemulihan mandiri di rumah.

Di tengah sorotan tersebut, Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Ia menyatakan siap bertanggung jawab serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur gizi yang dipimpinnya. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
#soto #suwiran ayam #SPPG Purwosari Kudus #keracunan MBG SMAN 2 Kudus