KUDUS — Dampak insiden dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 2 Kudus belum sepenuhnya berakhir.
Hingga Sabtu (31/1/2026), tercatat masih ada 11 pelajar yang menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit, meskipun kondisi mayoritas korban sudah menunjukkan perbaikan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus sebelumnya mencatat total 131 siswa harus mendapatkan penanganan medis dan dirujuk ke rumah sakit sejak peristiwa tersebut terjadi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, menjelaskan bahwa belasan siswa yang masih dirawat tersebar di empat fasilitas kesehatan.
Seorang siswa dirawat di RS Kartika Husada, dua siswa di RS Sarkies Aisyiyah, enam siswa di RSI Sunan Kudus, serta tiga siswa lainnya berada di RS Mardi Rahayu.
Menurut Hakam, keluhan yang tersisa umumnya berupa rasa mual dan nyeri perut.
Namun, ia memastikan kondisi para pasien terus membaik dan diperkirakan dapat kembali ke rumah dalam waktu dekat.
“Secara klinis kondisinya sudah jauh lebih baik. Jika tidak ada keluhan lanjutan, kemungkinan besok sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.
Hakam menambahkan, hingga kini hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel dan pasien belum keluar.
Proses analisis masih berlangsung dan diperkirakan baru akan rampung pada awal pekan depan.
“Hasil laboratorium kemungkinan baru bisa diketahui Senin atau Selasa. Dari situ baru bisa dipastikan penyebab keracunan,” jelasnya.
Di sisi lain, aktivitas belajar mengajar di SMA 2 Kudus masih mengalami penyesuaian.
Kepala SMA 2 Kudus, Nur Afifuddin, menyampaikan bahwa sejak Kamis (29/1), sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka sebagai langkah antisipasi.
Pada Jumat, siswa yang dinyatakan sehat diarahkan untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.
Sementara rencana masuk sekolah kembali dijadwalkan pada awal pekan depan.
“Insyaallah Senin siswa mulai masuk lagi. Namun untuk pelaksanaan MBG, kami belum bisa memastikan. Anak-anak tentu masih mengalami trauma,” ungkapnya.
Terkait kemungkinan pergantian dapur penyedia MBG atau SPPG, pihak sekolah belum mengambil keputusan.
Menurut Nur Afifuddin, langkah tersebut akan dibahas bersama orang tua murid dan komite sekolah.
“Sekolah tidak bisa memutuskan sendiri. Kami akan libatkan orang tua dan komite agar keputusan yang diambil benar-benar disepakati bersama,” pungkasnya. (him)
Editor : Abdul Rochim