KUDUS — Peristiwa dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa SMA Negeri 2 Kudus langsung mendapat respons serius dari Pemerintah Kabupaten Kudus.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turun langsung ke lapangan pada Kamis (29/1/2026) untuk memastikan penanganan korban berjalan cepat sekaligus melakukan penilaian menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Didampingi unsur Forkopimda, Sam’ani menyambangi lingkungan sekolah dan meninjau siswa yang tengah mendapatkan perawatan awal.
Sejumlah pelajar tampak masih terbaring lemah di ruang UKS, dengan keluhan kesehatan yang belum sepenuhnya pulih.
Melihat kondisi tersebut, Bupati langsung menginstruksikan langkah-langkah darurat.
Salah satunya dengan mengevaluasi seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kudus agar kualitas dan keamanan makanan lebih terjamin.
Begitu kejadian ini terjadi, pihsknys langsung bergerak bersama Forkopimda.
"Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh dan tidak bisa ditunda,” tegas Sam’ani di lokasi.
Untuk mendukung penanganan medis, Pemkab Kudus menyiagakan sekitar 50 ambulans yang dikerahkan ke sekolah dan rumah sakit rujukan.
Para siswa yang menunjukkan gejala langsung dibawa ke fasilitas kesehatan, baik rumah sakit milik daerah maupun swasta.
Selain itu, Sam’ani juga memerintahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus membuka layanan siaga melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) sebagai posko pemantauan kesehatan.
“Posko ini penting agar bila muncul kasus susulan, penanganannya bisa jauh lebih cepat,” ujarnya.
Pihaknya juga memerintahkan untuk ambil sampel. Baik makanan maupun feses agar diteliti.
Ke depan, Pemkab Kudus juga akan melakukan penilaian khusus terhadap SPPG yang berada di bawah koordinasi Kodim 0722/Kudus.
Bahkan, apel evaluasi direncanakan digelar sebagai bentuk penguatan pengawasan.
Terkait pembiayaan, Bupati memastikan seluruh siswa yang menjalani perawatan tidak akan dibebani biaya apa pun.
Seluruh pengobatan ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
“Kalau ada yang belum aktif BPJS-nya, hari ini juga langsung kami aktifkan. Tidak boleh ada yang terbebani,” katanya.
Berdasarkan pemantauan awal, sebagian besar siswa mengalami gejala ringan hingga sedang.
Adapun kasus dengan kondisi lebih berat diperkirakan sekitar 10 persen dari total korban.
Sam’ani juga menekankan pentingnya koordinasi rutin antara SPPG dan puskesmas di masing-masing wilayah guna memperketat pengawasan mutu makanan MBG.
Sebelumnya, puluhan siswa SMAN 2 Kudus dilaporkan mengalami gangguan kesehatan seperti mual, muntah, pusing, diare, hingga sesak napas.
Dugaan sementara mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelum kejadian.
Peristiwa ini terungkap sejak Kamis pagi, ketika proses belajar mengajar baru dimulai.
Sejumlah siswa tampak tidak mampu mengikuti pelajaran, bahkan ada yang muntah dan pingsan di area sekolah.
Kondisi darurat tersebut memicu evakuasi besar-besaran.
Ambulans keluar masuk halaman sekolah, sementara guru dan tenaga kesehatan berupaya menenangkan siswa lain yang panik.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo, membenarkan adanya dugaan keracunan.
Ia menyebut tim medis dari berbagai fasilitas kesehatan telah diterjunkan.
“Keluhannya bervariasi, mulai dari gangguan pencernaan sampai sesak napas. Sebagian siswa sebenarnya sudah merasakan gejala sejak di rumah setelah mengonsumsi MBG sehari sebelumnya,” jelasnya.
Meski demikian, sejumlah siswa tetap masuk sekolah hingga kondisinya memburuk.
Dua siswa dilaporkan sempat pingsan sebelum akhirnya mendapat penanganan medis.
Hingga siang hari, jumlah siswa yang dievakuasi mencapai sekitar 70 orang, dan angka tersebut masih bersifat sementara.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus kini terus melakukan pendataan, pemantauan lanjutan, serta penelusuran untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Sementara itu, pihak SMAN 2 Kudus belum menyampaikan keterangan resmi. (dik/gal/him)
Editor : Abdul Rochim