KUDUS – Data sekolah yang mengalami kebanjiran dan kerusakan fisik bertambah. Semula 48 sekolah, kini menjadi 62 sekolah.
Hujan lebat dalam lima hari ini menyebabkan bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Ada dua sekolah dilaporkan rusak. Yakni SD 1 Pladen dan SD 2 Japan.
SD 1 Pladen di Kecamatan Jekulo mengalami kerusakan pada bagian atap ruang kelas IV.
Plafon atap ambrol saat terjadi hujan deras Minggu (11/1) 2026. Beruntungnya pada saat kejadian, kegiatan pembelajaran tengah libur.
Sedangkan di SD 2 Japan, Kecamatan Dawe mengalami kerusakan pada pondasi bangunan, akibat dari tanah longsor yang terjadi di area dekat sekolah.
Kerusakan pada pondasi bangunan yang mengalami retak.
Korwil Kecamatan Jekulo Bidang Pendidikan, Suripah menjelaskan, saat ini kondisi sekolah sudah dibersihkan.
Penanganan plafon yang rusak akan menunggu dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus.
”Saat hujan deras, atap lembab, terus ambrol. Pas sekolah libur, jadinya siswa aman,” ujar Suripah.
Pihaknya akan terus memantau seluruh SD di Kecamatan Jekulo, mengingat hujan deras masih sering mengguyur wilayah Kudus.
Apabila terjadi kerusakan bangunan sekolah akibat dari cuaca ekstrem akan segera dilaporkan.
Sementara itu, Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Kudus Anggun Nugroho menjelaskan, kerusakan pada plafon akibat dari bencana hidrometrologi akan ditangani menggunakan anggaran perawatan rutin.
”Skemanya nanti seperti yang diarahkan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, yang menggunakan anggaran perawatan rutin dari APBD 2026. Alokasi anggaran tahun ini disediakan kurang lebih Rp 3,5 miliar,” kata Anggun.
Sedangkan, untuk kerusakan pondasi bangunan SD 2 Japan, lanjut Anggun, diperkirakan belum bisa menggunakan anggaran perawatan, mengingat tahun ini anggaran tersebut akan difokuskan pada atap dan plafon.
”Tapi nanti kami akan melihat lebih dulu kerusakannya seperti apa, karena kalau pondasi bangunan kan harus bongkar struktur, kalau memang urgen akan kita alokasikan lewat anggaran perbaikan reguler,” imbuhnya.
Anggun, meminta agar setiap sekolah melaporkan setiap kejadian yang ada di sekolah dari adanya bencana hidrometrologi.
Jangan sampai kerusakan sekolah tidak terlihat, tapi justru sewaktu-waktu bisa mencelakai siswa.
”Ini hujan masih sering turun sangat deras, kami imbau kepada sekolah agar terus waspada dan hati-hati,” tandasnya.
Untuk diketahui, ada 62 satuan pendidikan di bawah naungan Disdikpora Kudus yang terdampak bencana hidrometrologi, baik itu tanah longsor, maupun banjir.
Puluhan sekolah yang terendam banjir, terpaksa menerapkan pembelajaran daring. (san/him)
Editor : Abdul Rochim