KUDUS - Hujan deras yang turun tanpa jeda beberapa hari terakhir membuat sejumlah wilayah di Kudus dilanda banjir.
Di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, derasnya arus sungai berujung pada jebolnya penahan air di Jembatan 10 Kesambi, Rabu (14/1).
Dampaknya tak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghancurkan rumah warga.
Di lokasi, pelat besi yang berfungsi sebagai penahan luapan air di sisi barat jembatan tampak roboh.
Kini, lembaran besi itu hanya dipasang seadanya dengan ganjalan batang kayu.
Permukaan jalan di sekitar jembatan retak, sementara pagar besi pengaman patah dan terkulai akibat dihantam arus.
Sebuah rumah yang berdiri tak jauh dari jembatan menjadi korban terparah.
Air sungai menerjang bangunan tersebut, merusak pintu, jendela, serta perabot rumah tangga.
Hingga kemarin, rumah itu masih tergenang karena posisinya lebih rendah dari aliran sungai.
Warga setempat menuturkan, sejak Selasa (13/1) siang debit Sungai Kesambi sudah sangat tinggi.
Kondisi diperparah oleh tumpukan sampah yang tersangkut di tiang jembatan.
Upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan dengan memasang pelat besi penahan air, sebagaimana prosedur saat debit meningkat.
Namun, pada sore hari arus semakin kuat. Sampah yang menumpuk membuat aliran air melebar ke samping.
Tekanan yang besar akhirnya membuat penahan air tak mampu bertahan dan jebol di sisi barat.
Air pun meluber, menghantam rumah warga dan mematahkan tiang-tiang pengaman jembatan.
“Dampaknya, ada lima RT di sekitar jembatan yang terendam,” ujar seorang warga.
Kepala Desa Kesambi, Masri, menyebut kejadian terjadi sekitar pukul 15.30 WIB.
Menurutnya, kombinasi arus deras, debit tinggi, dan tumpukan sampah menjadi pemicu utama.
“Posisi jembatan ini memang tidak terlalu tinggi dari permukaan sungai. Karena itu kami pasang penahan air. Tapi kemarin arusnya luar biasa besar,” jelasnya.
Pasca-kejadian, pelat penahan air kembali dipasang secara darurat dengan bantuan alat berat.
Pembersihan sampah di sekitar jembatan juga dilakukan. Meski demikian, jebolnya penahan air meninggalkan kerusakan tambahan berupa retaknya aspal di bawah jembatan.
Sejak Rabu pagi, kondisi sungai mulai berangsur surut.
Limpasan air ke permukiman sudah berhenti, meski genangan di sekitar jembatan masih tersisa sekitar 40 sentimeter.
Alat berat terus bekerja untuk penanganan sementara.
Masri menambahkan, empat kepala keluarga di RT 1 RW 11 terdampak paling parah.
Rumah mereka rusak berat akibat terjangan air, sehingga seluruh keluarga harus mengungsi ke posko di Balai Desa Kesambi.
“Kerugian belum bisa kami pastikan, tapi kami sudah mengajukan bantuan ke dinas terkait,” pungkasnya. (dik/him)
Editor : Abdul Rochim