KUDUS - Bupati Kudus menetapkan status tanggap darurat bencana angin kencang, banjir, dan longsor.
Status tanggap bencana ini terhitung dari 12 Januari hingga 19 Januari mendatang.
Penetapan status ini, agar penanganan banjir lebih cepat serta kebutuhan mendesak korban bencana alam bisa terpenuhi.
”Kami menggerakkan potensi sumber daya yang kami miliki dalam rangka penanganan keadaan darurat,” katanya.
Dalam upaya penanggulangan bencana ini, pemkab akan berkoordinasi dengan BPBD Kudus, BPBD Provinsi Jateng, TNI, Polri, dan instansi terkait.
Selama masa tanggap darurat, Pemkab Kudus juga memantau perkembangan cuaca dan potensi bencana susulan.
Mengingat intensitas hujan masih tinggi di sejumlah wilayah. Masyarakat juga diimbau tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat.
Sampai dengan saat ini, BPBD Kudus mencatat ada enam kecamatan yang terdampak banjir di Kabupaten Kudus.
Meliputi Kecamatan Mejobo, Jekulo, Kaliwungu, Bae Jati, dan Kota. Total warga yang terdampak banjir ada 10.652 KK atau 33.789 jiwa.
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Kudus memakan korban tiga orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara rumah yang terdampak genangan air ada 4.856 rumah.
Saat ini, ada empat titik dapur umum yang dibuka untuk memenuhi kebutuhan kroban banjir.
Masing-masing di Desa Temulus, Ngembalrejo, Hadipolo, dan Pasuruan Lor.
Terkait penanganan jangka panjang, bupati Kudus menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus segera melakukan asesmen teknis.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi serta mengusulkan pembangunan embung kepada pemerintah pusat sebagai langkah pengendalian banjir ke depan.
Kemarin, Bupati Sam’ani menyambangi warga yang mengungsi akibat banjir di posko pengungsian TPQ Khurriyatul Fikri, Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Jati.
Tujuannya, untuk memastikan kondisi pengungsi serta kesiapan logistik selama masa tanggap darurat bencana.
Di lokasi pengungsian, bupati membaur dengan para pengungsi, berdialog, serta makan bersama.
Ia juga meninjau fasilitas kesehatan, tempat istirahat, dan ketersediaan logistik guna memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi dengan baik.
Ada 24 warga dari 14 kepala keluarga yang sebelumnya dievakuasi ke posko ini, menerima bantuan berupa paket sembako, selimut, perlengkapan P3K.
Lalu bantuan uang tunai untuk menunjang kebutuhan sehari-hari selama berada di pengungsian.
Peninjauan tidak hanya dilakukan di posko pengungsian, tetapi juga dilanjutkan ke wilayah terdampak banjir di Dukuh Goleng bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan perangkat desa.
Langkah ini untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar pengungsian tetap aman.
Bupati juga mengapresiasi para tenaga pendidik SD Negeri 3 Pasuruhan Lor yang tetap memberikan layanan pendidikan melalui pembelajaran daring.
Meski kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan akibat banjir.
”Kami sangat menghargai komitmen para guru yang tetap mendampingi anak-anak belajar di tengah situasi bencana,” ujarnya.
Usai dari Kecamatan Jati, bupati melanjutkan kunjungan ke posko pengungsian dan dapur umum di MI Hidayatus Shibyan, Desa Temulus, Mejobo.
Di situ, ia menyerahkan bantuan selimut, matras, beras, serta makanan siap saji kepada para pengungsi.
Ia memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari konsumsi, tempat istirahat, hingga layanan kesehatan, berada dalam kondisi aman dan tercukupi.
Jajaran puskesmas juga diminta aktif memeriksa kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
Sementara itu, dapur umum yang berpusat di Balai Desa Ngembalrejo mulai beroperasi penuh sejak Senin siang (12/1).
Sejak hari pertama itu, ribuan porsi makanan telah diproduksi dan didistribusikan ke wilayah-wilayah terdampak paling parah.
Koordinator Dapur Tagana Ngembalrejo Andi Wicaksono menyebut, hingga kemarin jumlah makanan yang disalurkan terus bertambah.
”Kemarin (Senin, Red) kami menyalurkan sekitar 5.000 porsi. Masing-masing 2.500 porsi untuk siang dan malam. Hari ini (kemarin, Red) kami distribusikan lagi,” jelasnya.
Bantuan makanan itu, difokuskan ke tiga dukuh, Dukuh Kauman, Boto Lor, dan Boto Kidul.
Ketiga wilayah ini, masih mengalami genangan cukup tinggi, sehingga aktivitas warga menjadi terbatas.
Selain kuantitas, kualitas makanan juga menjadi perhatian.
Menu yang disajikan disesuaikan dengan ketersediaan logistik, agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Pada hari pertama, dapur umum menyajikan menu telur dan mi.
Kemudian dilanjutkan dengan ayam nugget serta tumis sayuran pada hari berikutnya.
Operasional dapur umum melibatkan sekitar 50 personel dari berbagai unsur.
Mereka berasal dari Tagana, Dinas Sosial, PKK, BPBD, serta mahasiswa KKN yang turut membantu proses pengolahan hingga pendistribusian makanan.
Sementara itu, banjir yang melanda Kabupaten Kudus hingga kemarin belum surut.
Desa Ngembalrejo menjadi salah satu wilayah dengan dampak cukup signifikan, akibat genangan air yang bertahan selama beberapa hari dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Endayani Sam'ani Intakoris menegaskan, penyaluran bantuan dilakukan merata di seluruh wilayah terdampak.
Menurutnya, banjir tidak hanya terjadi di satu kecamatan, tetapi meluas ke sejumlah wilayah lain, khususnya kawasan Pantura.
”Kami sudah bergerak sejak kemarin (Senin, Red). Mulai dari Kecamatan Mejobo. Hari ini (kemarin, Red) di Bae. Selanjutnya ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau. Bantuan ini akan terus berlanjut,” ujarnya.
Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, agar dapur umum dan distribusi logistik berjalan optimal.
Jika di lapangan ditemukan kekurangan, pihak desa maupun kecamatan diminta segera melapor untuk ditindaklanjuti. ”Kami mementingkan makanan yang disalurkan aman dan bergizi,” katanya. (gal/dik/lin)
Editor : Abdul Rochim