KUDUS – Antusiasme masyarakat menyambut Pekan Raya Tradisi Dandangan 2026 tampak sejak hari pertama pembukaan pendaftaran lapak.
Galeri Dekranasda Kudus di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh dipadati calon pedagang yang rela mengantre demi mengamankan tempat berjualan.
Hanya dalam dua hari sejak dibuka pada Senin (12/1), jumlah pendaftar telah menembus lebih dari 430 orang.
Mereka berlomba memilih lokasi strategis untuk meramaikan tradisi tahunan yang akan digelar Februari mendatang.
Koordinator Pekan Raya Tradisi Dandangan Kudus, Anjas Pramono, menyebut klaster E, F, dan G yang membentang dari Jembatan Kali Gelis hingga Perempatan Jember langsung habis di hari pertama.
“Klaster E sebanyak 67 lapak, F ada 49, dan G berjumlah 59 lapak. Semuanya sudah penuh,” ungkapnya.
Tiga klaster tersebut memang diprioritaskan bagi pedagang lokal Kudus dengan komposisi 70 persen warga daerah dan 30 persen pedagang luar kota.
Harga sewanya pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per lapak.
“Karena kami buka pendaftaran offline, peminatnya langsung membeludak,” imbuh Anjas.
Sementara itu, klaster A, B, C, dan D masih menyisakan sekitar 80 hingga 90 lapak.
Area ini mayoritas diperuntukkan bagi produk fashion dan brand lokal, dengan tarif sewa lebih tinggi, yakni Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta.
“Yang masih kosong bisa daftar lewat online. Informasinya ada di Instagram @dandangan.kudus,” jelasnya.
Anjas menerangkan, biaya sewa lapak mencakup tenda ukuran 3×3 meter, layanan kebersihan, keamanan, listrik, hingga retribusi daerah.
Khusus pedagang dari luar Kudus dikenakan tambahan biaya antara Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu.
Setiap pendaftar dibatasi maksimal dua lapak dan wajib menunjukkan KTP untuk memastikan domisili.
Salah satu pendaftar, Rudy Setyawan, memilih ikut meramaikan Dandangan bukan untuk berdagang, melainkan mempromosikan tempatnya mengajar, SMP Tahfidz Ma’had Yasin Kudus.
Lapak yang ia sewa akan dimanfaatkan sebagai media promosi sekolah sekaligus sarana memperkenalkan program pendidikan menjelang penerimaan murid baru.
“Dandangan ini kan ramai, banyak juga pengunjung dari luar daerah. Murid kami juga banyak dari luar kota, jadi kami ingin mengenalkan sekolah lewat cara yang berbeda. Ini pertama kali kami ikut,” tuturnya.
Rudy memilih lokasi di sekitar Perempatan Menara Kudus.
Ia berharap pendekatan promosi yang tidak biasa ini mampu menarik perhatian masyarakat.
“Keunggulan kami ada di tahfidz dan tilawah,” pungkasnya. (san/him)
Editor : Abdul Rochim