KUDUS – Desa Wisata Japan di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terus menunjukkan perkembangan pesat sebagai salah satu destinasi unggulan berbasis budaya dan konservasi.
Di bawah binaan Universitas Muria Kudus (UMK), desa ini berhasil bertransformasi menjadi kawasan wisata edukatif yang tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga mendapat perhatian hingga mancanegara.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat desa, UMK secara konsisten mendampingi warga Desa Japan dalam berbagai program pelatihan, pemberdayaan UMKM, riset terapan, serta pengembangan sumber daya manusia.
Pendampingan ini bertujuan memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara kreatif dan profesional.
Salah satu hasil nyata dari kerja sama tersebut adalah lahirnya paket wisata edukasi keluarga.
Konsep ini menghadirkan pengalaman wisata yang unik, di mana pengunjung tidak hanya menikmati panorama pedesaan dan hasil karya warga, tetapi juga belajar langsung tentang budaya lokal, kerajinan, dan pelestarian lingkungan di kawasan konservasi.
Pendekatan berbasis konservasi ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dan wisata berkelanjutan.
Meski segmen pasarnya relatif spesifik, konsep wisata edukatif Desa Japan terbukti mampu menarik berbagai kalangan mulai dari pelajar, komunitas, hingga keluarga.
Bahkan, wisatawan dari Jepang telah dua kali berkunjung ke desa ini, menandakan bahwa daya tarik Desa Japan telah melampaui batas nasional.
Ketua Pengelola Desa Wisata Japan, Mutohhar, mengungkapkan bahwa pendampingan dari UMK membawa perubahan besar bagi masyarakat.
“Selama proses pembinaan, kemampuan dan kepercayaan diri warga kami meningkat pesat. Masyarakat kini lebih sadar pentingnya pendidikan, keterampilan, dan inovasi dalam mengembangkan desa wisata. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Universitas Muria Kudus menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat desa.
“Kami ingin Desa Japan menjadi contoh nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam membangun desa wisata berbasis konservasi yang mandiri dan berdaya saing,” ungkap perwakilan UMK.
Rektor Universitas Muria Kudus dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Japan, pemerintah desa, dan pelaku usaha lokal atas semangat dan dedikasinya dalam mengembangkan potensi desa.
“Desa Japan adalah potret nyata kemandirian masyarakat yang mampu mengelola potensi alam, tradisi, dan kreativitas menjadi kekuatan ekonomi berbasis kearifan lokal. UMK bangga dapat menjadi bagian dari proses sinergi ini melalui berbagai program pengabdian, riset, dan pendampingan UMKM,” ucapnya.
Lebih lanjut, UMK menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata komitmen universitas untuk menjadi kampus yang berdampak, hadir di tengah masyarakat dan tumbuh bersama masyarakat.
Ke depan, UMK berharap Desa Japan dapat menjadi “living laboratory” bagi mahasiswa dan dosen dalam mengembangkan inovasi sosial, ekonomi kreatif, serta pariwisata berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Desa Wisata Japan kini menjadi simbol keberhasilan sinergi antara kampus dan masyarakat desa.
Sebuah langkah nyata menuju desa yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing global sekaligus inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Kudus dan seluruh Indonesia. (amr)
Editor : Syaiful Amri