KUDUS - Imbas cuaca ekstrem serta dibukanya pintu Bendung Wilalung membuat petani di Desa Wonosoco dan Berugenjang mengeluh.
Lahan pertanian yang baru ditanami terendam oleh air sungai.
Para petani menyebut lahan ini pertanian sebetulnya bisa tidak terendam.
Solusi kuncinya adalah melakukan normalisasi Sungai Londo yang berada di hilir tepat berada di Desa Kutuk.
Dibukanya pintu air ini diakibatkan, kiriman air dari hulu menuju Bendung Wilalung.
Sementara dampak cuaca ekstrim ini mengakibatkan kurang lebih 600 hektar sawah terendam di wilayah Kecamatan Undaan.
Ketua Kelompok Tani Blalakrejo, Desa Wonosoco, Mupangat menyampaikan banjir merendam sawahnya bulan ini.
Hal tersebut diakibatkan kiriman dari Sungai Juana yang tidak bisa mengalir dengan lancar.
Dia mengaku baru menanam kurang lebih satu Minggu. Luas lahan yang terdampak diperkirakan delapan hektar.
”Ini baru menanam masa tanam pertama. Kerugian per hektarnya kurang lebih Rp 8 juta,” katanya.
Mupangat menyebut masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun.
Dia menyebut perlu adanya solusi nyata dari pemerintah. Upaya normalisasi Sungai Londo di hilir tepatnya di Desa Kutuk.
”Jadi ini perlu normalisasi di Desa Kutuk, karena di bagian pinggir sungai terdapat bangunan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Eko Hari Jatmiko menyampaikan, telah melakukan pementaan dan mitigasi penanganan masalah banjir tersebut.
Dia menyebut, memang perlu adanya normalisasi di Sungai Londo bagian hilir. Akan tetapi realisasi ini perlu adanya kerja sama dengan stakeholder terkait.
”Kami telah memetakan penanganannya. Kami akan berkoordinasi dengan PUPR dan dinas terkait lainnya (BBWS Pemali Juana),” katanya.
Tepisah, Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayah menambahkan, hasil pemantauan udara menunjukkan genangan bukan disebabkan oleh gagalnya normalisasi yang sebelumnya dilakukan di Sungai Londo bagian Wonosoco.
Melainkan karena pekerjaan di bagian hilir sungai yang belum terselesaikan, sehingga debit air di bagian tengah dan hulu sungai tinggi karena terhambat endapan di bagian hilir.
“Problemnya bukan karena normalisasi kita tidak berhasil, tapi karena di bagian hilir itu memang belum dikerjakan karena hujan sudah turun lebih awal dari prakiraan cuaca (perubahan cuaca),” jelasnya.
Menurutnya, hambatan di bagian hilir tersebut disebabkan adanya endapan serta penyempitan badan sungai.
Normalisasi lanjutan juga memerlukan strategi pelaksanaan yang tepat.
Hal tersebut dikarenakan adanya bangunan yang berdiri di sempadan sungai, menyulitkan proses normalisasi sungai.
”Karena di sana ada bangunan yang berdiri di pinggir sungai. Serta tumpukan sedimentasi material tanah dari Pegunungan Kendeng yang terbawa saat hujan,” katanya.
Dari hasil pantauan lapangan tersebut, BPBD akan melakukan laporan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Mereka akan mengusulkan proses normalisasi bisa dikerjakan. (gal/him)
Editor : Abdul Rochim