GEBOG – Sekitar 5.000-an warga dari berbagai penjuru memadati kompleks makam Raden Muhammad Syarif di Dukuh Krajan Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus pada Rabu (23/7).
Acara haul yang digelar rutin setiap Legi di akhir bulan Muharam ini berlangsung khidmat sekaligus meriah.
Ketua Panitia Ahmad Wafi Baq menyebut, haul ini bukan sekadar tradisi.
Tapi juga bentuk penghormatan terhadap sosok ulama besar yang diyakini satu zaman dengan Sunan Kudus dan merupakan santri dari Sunan Gresik.
"Beliau asli Madura, putra dari Bupati Sumenep pada masanya. Beliau datang dan menetap di Padurenan untuk menyebarkan dakwah," jelasnya.
Tradisi haul dimulai sejak Selasa (22/7) pukul 05.00 WIB dengan kegiatan tahtiman (khataman Alquran secara hafalan) hingga sore.
Keesokan harinya, Rabu siang, digelar ziarah kubur, pembacaan tahlil, Yasin, dan surat-surat pendek, disusul buka luwur dan pengajian umum yang selesai menjelang Magrib.
Prosesi buka luwur dilakukan dengan mengganti kain penutup tujuh makam yang diyakini merupakan tokoh agama penting, termasuk Raden Muhammad Syarif.
Selain itu, ada juga makam di luar bilik yang diganti luwurnya juga, yaitu kepala desa pertama Padurenan. Usai diganti, makam-makam tersebut ditaburi bunga.
"Enam di dalam bilik atau ruangan, satunya di luar ruangan, yang merupakan makam kades pertama," jelasnya.
Yang unik, makanan yang dibagikan kepada ribuan pengunjung dibungkus dengan daun jati.
Tercatat ada 3,15 kwintal beras, dua ekor kambing, dan satu ekor kerbau yang dimasak untuk disajikan sebagai nasi berkah.
Totalnya mencapai 5.000 bungkus, dan semuanya ludes dibagikan kepada para peziarah.
“Bungkus dari daun jati itu warisan tradisi. Selain ramah lingkungan, juga memberi aroma khas pada nasi berkah,” ujar Wafi.
Haul ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para perantau.
Salah satunya, Direktur Jawa Pos Radar Kudus, Baehaqi, yang hadir sejak awal hingga akhir prosesi.
Ia mengaku bangga bisa pulang kampung dan menjadi bagian dari peringatan haul ini, terlebih karena ia merupakan warga asli Padurenan.
"Pengunjung tidak hanya dari desa setempat atau Kudus, ada juga dari sekitaran Kudus. Bahkan dari dari Kalimantan," katanya.
Pengajian umum yang dipimpin Kiai Fatkhur Rozak pun menjadi puncak acara.
Dalam ceramahnya, Kiai Fatkhur menyampaikan pesan moral dengan gaya jenaka dan penuh gelak tawa. Suasana religius pun terasa akrab dan hangat.
Menurut naskah kuno yang disimpan oleh juru kunci makam, kata Wafi, sekitar 65 persen warga asli Padurenan masih merupakan keturunan langsung dari Mbah Syarif.
Tak heran, wilayah lor (utara) dan kulon (barat) Kabupaten Kudus pun masih banyak terpengaruh oleh jejak spiritual beliau.
”Haul ini bukan hanya ziarah, tetapi juga napak tilas sejarah dan identitas desa kami,” kata Ahmad Wafi. (dik/him)
Editor : Abdul Rochim