KUDUS – Kirab Budaya Sedekah Bumi di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Minggu (18/5), menjadi lebih dari sekadar pesta rakyat.
Di balik meriahnya pawai budaya, kirab tahun ini membawa pesan kuat tentang pentingnya kesadaran lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Mengusung tema Tumbuh Bersama Alam, Hidup Bersama Budaya, kirab dimulai dari Lapangan Gandekan pukul 09.00 WIB dan menempuh rute sepanjang tiga kilometer menuju Balai Desa Getas Pejaten.
Sebanyak 45 rombongan ikut serta, terdiri atas perwakilan dari 11 lembaga pemasyarakatan dan organisasi masyarakat, delapan lembaga pendidikan, serta 26 RT dan RW di desa tersebut.
Salah satu sorotan utama adalah penampilan peserta dengan kostum unik hasil daur ulang.
Botol plastik, kardus bekas, hingga kain perca disulap menjadi kostum kreatif penuh warna.
Langkah ini tidak hanya menunjukkan kreativitas warga, tapi juga mengedukasi masyarakat bahwa sampah bukanlah akhir dari barang, melainkan bisa diberi nilai dan fungsi baru.
Kepala Desa Getas Pejaten, Kusnadi mengatakan, kirab ini menjadi momen tepat untuk mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda, agar mulai memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Budaya tidak boleh lepas dari kesadaran menjaga alam. Sampah adalah isu besar yang harus ditangani dari tingkat desa,” ujarnya.
Rangkaian kirab juga dimeriahkan oleh berbagai atraksi budaya seperti barongsai, tarian tradisional, hingga gunungan hasil bumi yang dihias dengan sayur dan buah lokal seperti wortel, tomat, kol, dan pisang.
Di sepanjang rute, spanduk bertuliskan ajakan menjaga lingkungan tampak menghiasi barisan peserta.
Setibanya di Balai Desa, tiap kelompok menampilkan pertunjukan seni masing-masing.
Ada yang mengenakan kostum tokoh pewayangan dari limbah kain, ada pula kelompok pemuda yang menari modern dengan pesan lingkungan dalam lirik dan gerakannya.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kudus, Valerie Yudisthira, turut mengapresiasi kegiatan tersebut.
“Kirab budaya Getas Pejaten ini sangat bagus karena mengangkat isu daur ulang sampah. Kudus pernah menghadapi darurat sampah, dan semua solusi harus dimulai dari budaya. Harapan kami, ini bisa menjadi awal budaya baru yang lebih peduli lingkungan,” ujarnya.
Valerie juga menyampaikan bahwa DPRD Kudus dan pemerintah desa siap berkolaborasi untuk mendukung gerakan pengelolaan sampah di tingkat akar rumput.
“Kami menyambut baik animo masyarakat dan siap memfasilitasi langkah konkret ke depan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, Kirab Budaya Sedekah Bumi Desa Getas Pejaten tahun ini pun tak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga momentum penting membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga budaya dan lingkungan harus berjalan beriringan. (dik/amr)
Editor : Syaiful Amri