KUDUS – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Kudus menunjukkan komitmennya terhadap isu lingkungan dengan menggelar Pelatihan Pengelolaan Sampah bertema “Mengurai Masalah Menjadi Maslahah”, Minggu (18/5) di Bank Sampah Tunjung Seto, Kecamatan Bae, Kudus.
Kegiatan ini diikuti oleh 36 kader Ansor dari berbagai kecamatan dan dibuka langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kudus, Arif Musta’in.
Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah.
“Sampah sering dianggap masalah.Padahal jika dikelola dengan benar, justru bisa jadi berkah, bahkan sumber ekonomi. Inilah yang kami maksud dengan mengurai masalah menjadi maslahah,” tegasnya.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program lintas bidang GP Ansor Kudus, yaitu Lingkungan Hidup, Pertanian Peternakan Perikanan (3P), UMKM, dan Pengkaderan.
Materi pelatihan mencakup teknik pemilahan sampah organik dan anorganik, pengolahan kompos, manajemen bank sampah, hingga strategi edukasi lingkungan masyarakat.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tapi gerakan perubahan. Kami ingin kader Ansor tampil sebagai pelopor solusi lingkungan yang konkret,” pungkas Arif Musta’in.
Saifuddin Nawawi, Ketua Bidang Lingkungan Hidup, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya.
“Kami berikan pemahaman dasar tentang teori dan praktik pengolahan sampah. Sampah organik bisa jadi pupuk, sedangkan plastik bisa digarap oleh bidang UMKM untuk didaur ulang,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang UMKM, M. Fatchul Munif, menekankan pentingnya melihat sampah sebagai potensi ekonomi.
“Kami ingin peserta memahami bahwa sampah bisa menjadi solusi lingkungan dan peluang usaha. Ada kader kami di Bae yang sudah berhasil, dan ini harus ditularkan,” ujarnya.
Ketua Bidang 3P, M. Anshori, turut menambahkan bahwa kegiatan ini mendukung program pemerintah dalam pemilahan sampah sejak dari rumah.
Ia juga menjelaskan alur pengelolaan bank sampah di Tunjung Seto, yang terintegrasi dengan pertanian dan peternakan.
“Sampah organik dijadikan pakan maggot, lalu maggot untuk pakan lele. Air lele digunakan sebagai pupuk pohon pepaya. Semua ini dikelola oleh Bumdes,” terangnya.
Model bank sampah yang dipraktikkan di Tunjung Seto ini diharapkan menjadi inspirasi bagi peserta untuk diterapkan di desa masing-masing.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kader dan pemerintah desa untuk membentuk sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Pelatihan ini menjadi langkah awal membangun budaya sadar sampah berbasis komunitas pemuda, dengan harapan tumbuhnya bank-bank sampah baru yang mampu menjawab persoalan sekaligus membuka peluang kesejahteraan masyarakat," tutupnya. (dik/amr)
Editor : Syaiful Amri