KUDUS - Solikhin seorang tukang pijat asal Desa Kesambi berangkat haji bersama istrinya, ia mendaftar haji menggunakan biaya yang ia tabung selama 30 tahun.
Solikhin berhasil menggapai cita-cita besarnya.
Ia memijat dengan biaya seikhlasnya.
Ia membuktikan ketulusan bisa menjadi modal mencapai impian.
Di balik profesi yang tampak sederhana, Solikhin (63), seorang tukang pijat asal Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, menyimpan perjalanan luar biasa menuju Tanah Suci.
Tanpa tarif pasti, hanya mengandalkan “seikhlasnya” dari pelanggan, Solikhin membuktikan bahwa ketulusan bisa menjadi modal utama untuk menggapai impian.
Sejak 1995, Solikhin menyisihkan uang dari hasil pijat yang ia lakukan setiap hari, selama 30 tahun.
Tak pernah mematok harga, ia hanya berharap bisa meringankan badan orang lain dan menabung sedikit demi sedikit untuk cita-cita besarnya yaitu naik haji bersama sang istri, Solikhatun (60).
“Waktu mulai nabung, uangnya nggak seberapa. Tapi saya yakin, asal terus dijalani, pasti sampai juga,” kenangnya, saat ditemui usai mengikuti manasik haji di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Rabu (7/5).
Keyakinannya perlahan terwujud.
Tahun 2012, tabungan itu cukup untuk mendaftar haji.
Setelah menunggu selama 13 tahun, tahun ini penantian itu tuntas.
Solikhin dan Solikhatun tergabung dalam kloter 48 dan dijadwalkan berangkat pada 14 Mei 2025.
Menariknya, Solikhin justru tak menganggap pijat sebagai pekerjaan semata. Baginya, itu adalah bentuk ibadah yang menenangkan hati.
“Saya nggak cari kaya, yang penting bisa bantu orang merasa enak,” ujarnya.
Selain menabung untuk haji, dari hasil pijat itu pula ia menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus SMA.
Kini, dua anak sudah berkeluarga, dan satu lainnya bekerja.
ebuah pencapaian yang lahir dari keikhlasan, bukan dari kemewahan.
Saat manasik, Solikhin tampak semangat meski usianya tak lagi muda.
Ia bahkan berseloroh siap membantu memijat sesama jamaah bila kelelahan saat di Tanah Suci.
“InsyaAllah kalau ada yang pegal, bisa saya bantu mijit di sana,” tuturnya sembari tersenyum.
Solikhin juga menyatakan tak berniat pensiun selepas haji.
“Kalau masih diberi sehat, saya tetap mijit. Saya ingin tetap bermanfaat bagi yang membutuhkan,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 1.416 calon jamaah haji asal Kudus akan berangkat dalam empat kloter, dimulai dari 13 hingga 16 Mei.
Di antara ribuan nama itu, kisah Solikhin menegaskan bahwa ibadah haji tak hanya milik mereka yang berkecukupan, tapi milik siapa saja yang setia menjaga niat baik dan sabar dalam ikhtiar.
Perjalanan Solikhin adalah cermin bahwa ikhlas bisa menuntun langkah kecil menuju mimpi besar. (dik/amr)
Editor : Syaiful Amri