KUDUS – Tradisi tahunan Sedekah Bumi di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, kembali digelar meriah pada Selasa Pon (6/5).
Bertema “Menawan Mantu Tempo Dulu”, acara yang telah memasuki tahun keempat ini sukses menyedot ribuan penonton berkat suguhan budaya yang kuat dan penampilan bintang tamu spesial yaitu sinden muda Niken Salindry.
Acara dipusatkan di Sanggar Seni dan Budaya Abiyoso atau Lapangan Bumi Abiyoso, dan menjadi panggung kolaborasi antara seni tradisi dan kreativitas lokal.
Puncak pertunjukan malam hari menghadirkan pentas wayang kulit oleh dalang Ki Sigid Ariyanto dari Rembang, diselingi aksi kocak Lawak Jolang yang menambah semarak suasana.
Namun sorotan utama malam itu tertuju pada penampilan Niken Salindry.
Dengan suara khas dan penampilan anggun, sinden muda yang tengah naik daun ini membawakan lagu-lagu seperti Lestari, Ayang-Ayang, dan Pujaningsih serta beberapa lagu campursari lainnya.
Kehadirannya menjadi magnet tersendiri, menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan usia.
Interaksinya dengan pelawak Jolang dalam selingan lawakan juga sukses menghidupkan panggung dan mengundang gelak tawa.
Kepala Desa Menawan, Tri Lestari, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya acara dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, termasuk kepala desa se-Kecamatan Gebog, jajaran kepolisian, serta para relawan yang terlibat dalam pengamanan dan kelancaran kegiatan.
“Ini bukan sekadar hiburan rakyat, tapi wujud promosi potensi wisata dan budaya desa kami. Semoga ‘Menawan Mantu’ bisa terus digelar tiap tahun dan makin dikenal masyarakat luas,” ujar Tri Lestari dalam sambutannya.
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, turut hadir dan memberikan apresiasi atas konsistensi pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat Menawan.
“Menawan Mantu jilid empat ini menunjukkan semangat luar biasa masyarakat dalam menjaga tradisi dan mengembangkan potensi desa,” ucapnya.
Bellinda juga menyebutkan, Sedekah Bumi Desa Menawan tak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga wadah ekspresi masyarakat, dari seniman lokal hingga sinden muda berprestasi seperti Niken Salindry.
Gelaran ini menegaskan bahwa tradisi dapat terus hidup dan diminati bila dikemas dengan kreatif dan inklusif. (dik/amr)
Editor : Syaiful Amri